KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Jakarta,  Saat ini Indonesia dalam keadaan darurat ekologis yang mengancam kelangsungan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena itu Walhi bersama rakyat pengelola sumber daya alam, organisasi masyarakat sipil, dan unsur lainnya mendesak pemerintah kini dan ke depan menjalankan dan
selengkapnya....


 


 
BERITA PARIWISATA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Jatuh Cinta Kepada Telaga 26 Nov 2017 11:31 WIB

Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Ideocracy Karya Tisna Jaya di Galeri Nasional Jakarta

 
PARIWISATA

Ideocracy Karya Tisna Jaya di Galeri Nasional Jakarta
Oleh : Ruslan Andy Chandra | 19-Des-2008, 12:18:32 WIB

KabarIndonesia - Pameran tunggal Tisna Jaya dengan tema IDEOCRAZY: Menimbang-ulang “rezim etsa” berlangsung di Galeri Nasional Jakarta. Pameran yang akan berlangsung  mulai tanggal 19 hingga 31 Desember 2008 dibuka oleh Goenawan Mohahamad.

Sebagai curator dalam pameran terbesar Tisna Jaya adalah Rizki A. Zaelani dan  Jim Supangkat. Selain nama-nama besar tersebut  juga tak ketnggalan Anton Larenz ditunjuk sebagai Penulis tamu. Sekitar 132 karya yang terdiri dari 60, Karya Grafis, 17 Master Plate Drawing, 48 Lukisan dan 6. Karya Instalasi yang ditampilkan dengan penataan yang artistik.  Tisna juga piawi dalam akting di Televisi sebagai "Si Kabayan." Selain itu Tisna juga memberikan Buku "ideocrazy" dengan sub judul "Retingking the Regime of Etching.
 
Penjelasan dari Dr. Andonowati (Artsociates) dengan mengutip tulisan Rizki A. Zaelani  dan Jim Supangat disampaikan di Galeri Nasional Jakarta (19/12). Dr. Andonowati menyatakan bahwa  pameran “ IDEOCRACY ” tak hanya . menampilkan kumpulan karya-karya printmaking Tisna Sanjaya, tapi juga karya-karya lain yang memanfaatkan berbagai bahan. Beberapa material berkaitan dengan ingatan soal proses kerja printmaking yang biasa Tisna Sanjaya lakukan (aspalt, plat alumunium, abu); material lainnya (lumpur tanah, air sungai, dan obyek-obyek temuan) lebih menghubungkan proses kreatif pada ingatan dan renungan soal makna pergulatan hidup masyarakat sehari-hari. Gabungan dan pemanfaatan material-material itu menjadi karya seni membuka cakrawala persoalan cara ‘produksi’ karya seni rupa secara khusus dan melebarkan makna pengalaman proses pengerjaannya.
 
Penggabungan ini, pada satu sisi, jadi kasus bagaimana tradisi penciptaan karya seni rupa secara konvensional, khususnya, lukisan mengalami perluasan konteks pengkajian. Pada sisi lainnya, khususnya bagi Tisna Sanjaya,  beberapa material yang sebelumnya adalah bagian dari pengertian dan pengalaman ‘rezim etsa’ mengalami transformasi praksisnya secara berbeda.
 
Jika kita cermati, imej figural karya-karya Tisna bukan bentuk yang selamanya diciptakan ‘baru’ tetapi justru juga adalah imej-imej ‘lama’ yang pernah dikerjakan sebelumnya. Imej-imej itu mengalami proses ‘pembaharuan’ dan ‘pengubahan’. Proses penciptaan bentuk pada karya-karya Tisna Sanjaya tak berdasar pada prinsip ‘penemuan’ bentuk yang disesuaikan dengan persoalan; tetapi justru menarik hubungan-bungan dari bentuk yang pernah ada ke bentuk yang lainya. Tisna Sanjaya menunjukkan praktek diskurus ‘menghubungkan’, dengan cara menggali kaitan-kaitan satu persoalan dengan persoalan-persoalan lainnya. Menimbang lingkup pergaulan sehari-hari Tisna Sanjaya, maka tentu ‘mudah’ baginya menghubungkan masalah seni rupa dengan sastra, dengan teater; atau persoalan ekspresi seni rupa dengan masalah sosial-politik, dengan olah raga (sepak bola). Ini adalah ‘suatu metoda [kerja] menghubungkan yang berdasar pada praxis [hidup]’ (a praxis-based method of relating) yang pada akhirnya menunjukkan dasar-dasar pertimbangan diri Tisna untuk memahami persoalan peran (ekspresi) seni secara sosial dan kultural.

Bila makna karya-karya Tisna dikaji segera bisa ditangkap, ungkapannya mencerminkan sense perception yang muncul dari perasaan dan pengalaman personal dan bukan perception yang rasional. Mencerminkan persepsi seni pada masyarakat kita, sebagaimana soal kebaikan pada ungkapan Tisna Sanjaya, berkaitan dengan moralitas yang muncul terutama sebagai kepedulian sosial. Tentang ini Tisna  mengemukakan, “Paket kesenianku adalah pengujian kembali masalah-masalah sosial, moral, agama, politik dan estetika.”
 
Moralitas pada karya-karya Tisna adalah moralitas dalam kehidupan sehari-hari dan bukan moralitas dalam pemikiran filosofis. Pada filsafat estetik yang berkembang pada era seni kontemporer sekarang ini, moralitas semacam ini dikaji sebagai moderate moralism. Pada pemikiran Noël Caroll moderate moralism mengandung nilai-nilai umum yang mudah dikenali. Nilai-nilai umum ini membangkitkan emosi umum pula yang disebut Caroll garden-variety emotions seperti kemarahan, harapan, ketakutan, kesedihan dan sebagainya. Caroll melihat emosi-emosi ini sebagai persoalan mendasar pada komunikasi seni kontemporer. Emosi ini hadir pada proses penciptaan karya seni dan menjadi dasar apresiasi publik ketika mengamati karya seni.

Tidak sulit merasakan moralitas pada ungkapan Tisna bertumpu pada nilai-nilai dalam ajaran agama Islam. Tidak sulit juga untuk melihat moralitas ini tercermin pada kehidupan sehari-hari Tisna yang dikenal sebagai seorang Muslim yang taat. Ia mengemukakan nilai-nilai agama ini menjadi dekat dengan moralitas karena bercampur dengan nilai-nilai tradisi dan budaya yang dalam masyarakat mana pun mencerminkan upaya membangun orde yang harmonis. “Karena itu nilai-nilai agama ini menjadi dekat juga dengan kesenian,” kata Tisna menjelaskan keyakinannya. “Dan ini yang membuat saya sangat percaya pada kekuatan kesenian.”

Keteguhan sikap dalam mempercayai kekuatan seni pada Tisna Sanjaya hadir bukan karena ia mengenal teori-teori seni dan suka pada pemiiran seni. Bagi saya, keteguhan ini menunjukkan pentingnya persepsi yang mendasar tentang seni pada proses berkarya seniman kita. Rasa bahasa dalam memahamai instilah “seni” dan intuisi budaya pada Tisna membuat ia bisa dengan tegas merasakan pemahaman seni yang subversif namun sebenarnya mencerminkan raison de’ etre, praktek seni di Indonesia.

Melalui Tisna, pemahaman seni pada masyartakat kita, bisa diperkaya. Seni pada pemahaman ini tidak hanya berkaitan dengan moralitas. Seni dalam pemahaman ini adalah art as cultural practice—kebetulan sama dengan pemahaman yang disepakati para ahli estetika dalam melihat seni kontemporer.

Jim Supangkat / “Seni, Moralitas, Ekspresi Islami”

Pada kajian khusus Senii Grafis,  meski di Indonesia Tisna Sanjaya sudah kenal baik prinsip-prinsip kerja teknis etsa, toh pengalamannya belajar di Jerman jadi tahap ‘baru’ baginya untuk ‘mengenalnya kembali’. Tisna seakan tengah mengenal teknik itu secara berbeda, secara asing, sebagaimana ia juga harus membiasakan hidup dan bekerja di tempat yang asing, yang berbeda secara sosial dan kultural dengan tempatnya berasal dan dibesarkan. Bagi Tisna, pengenalan ulang teknik tersebut berarti juga proses pengenalan kembali ‘identitas’ dirinya yang terpisahkan dari adat kebiasaan hidup sebelumnya. Dalam perspektif pandangan Adorno, pengalaman memahami ulang dialektika proses kerja seni yang Tisna lakukan di Jerman bisa dipahami sebagai pengalamannya memahami ‘dialektika sosial’ masyarakat dan kebudayaan barat secara umum.

Bagi Tisna Sanjaya, teknik etsa mengajarkan makna penting soal disiplin kerja. Pelajaran ini terus direnunginya lebih dalam lagi sebagai makna disiplin dan perencanaan. Jauh dan mendalam dari hasil renungannya itu, Tisna Sanjaya menemukan teritori makna yang berkaitan dengan persoalan orientasi sikap dan pandangan hidup secara umum. Baginya, misalnya, kecermatan dan disiplin seseorang menyiapkan dan mengerjakan tahapan kerja etsa sebaiknya bukan ditujukan demi hasil yang ‘sama’ dan memiliki standar yang seolah-olah jelas (sebagaimana hasil cetakan mesin industri); tapi justru berkaitan dengan proyeksi hasil yang dibayangkan sang seniman sendiri, sambil juga tetap bersikap terbuka pada kemungkinan hasil-hasil (cetakan) yang bersifat ‘lain’. Etsa dengan demikian, bagi Tisna Sanjaya, tak hanya bermakna sebagai mekanisme teknik kerja tetapi manifestasi makna kesadaran tentang disiplin dan ketaatan, masalah pengharapan, serta sikap untuk terus terbuka pada hasil yang tak pernah ‘hidup’ dalam bayangan seseorang sebelumnya.

Dalam proses membuat etsa-etsa Tisna terlibat secara mendalam, mirip kesurupan atau trance; terpesona bahan-bahan seperti lempengan tembaga, aspal dan reaksi kimia yang dibuat oleh asam. Para maestro kuno seperti Rembrandt, Albrecht Duerer dan Francisco Goya, atau seniman yang pernah pencetak dengan dedikasi tinggi adalah acuan Tisna.

Rembrandt sangat berminat dalam efek cahaya yang kuat sama dengan latar belakang yang gelap sekali, disebut efek chiaroscuro, maksudnya kontras yang kuat antara cahaya dan bayangan. Efek chiaroscuro dapat memunculkan suasana misterius dan menjadi simbol keadaan kegugupan atau ketakutan yang menghancurkan.
William Blake menulis puisi, melukis dan membuat etsa. Tisna punya hubungan dekat dengan maestro hebat ini. Kutipan dari puisi William Blake kadang-kadang juga tertulis di karya Tisna.

Francisco Goya adalah seniman berpikiran terbuka dan liberal yang sering terkena konflik dengan sistem absolutime dan terror inkuisi. Karyanya memperlihatkan kompleksitas jiwa manusia dan dunia impian. Goya terpengaruhi Rembrandt dalam kesukaan pada latar belakang yang gelap dan misterius. Ajaran lain diambil dari alam di mana ia menemukan keanekaragaman bentuk yang luas dan tidak terbatas; kadang-kadang bentuk indah, kadang-kadang muncul bentuk yang mengerikan dan menimbulkan ketakutan.

Dengan pilihan teknik etsa Tisna Sanjaya menempatkan diri dalam tradisi seni yang sudah kuno. Banyak maestro lama masih punya hubungan dekat dengan ilmu gaib atau ‘yang tersembunyi’ yang mendominasi pikiran zaman dulu. Ilmu tersebut sering jadi metafor tersembunyi pada karya-karya kuno abad pertengahan dan abad-abad berikutnya.

‘Terang’ dan ‘gelap’ merupakan konsep utama dalam proses berkarya Tisna Sanjaya. Tisna menjelaskan pengalamannya selama pembuatan seri karya baru sebagai “melukis di atas gelap”. Menurut Tisna, kita harus melalui kegelapan dulu untuk tiba pada pencerahan.

Al-kimia berangkat dari konsep dasar hitam dan putih, terang dan gelap. Itu bisa sampai pada soal titik moral dalam ajaran – mengucapkan sifat dikotomis kebaikan dan keburukan, dan secara berkesinambungan juga tentang kesempurnaan dan ketidaksempurnaan. Putih dipakai untuk melambangkan kemurnian hati dan tidak berdosa, namun hitam tidak digunakan sebagai simbol tetapi untuk upaya yang menggambarkan realitas atau hakekat dalam arti yang sesungguhnya. Apabila “hitam” dipakai sebagai warna dalam arti sesungguhnya lalu tidak ada guna lagi dalam untuk mengembangkan terus ide kesempurnaan, kecuali kalau hitam justru dipakai sebagai titik awal. (Ando/AS/rac).

*Foto Ruslan Andy Chandra: Tisna Jaya dari Bandung di Gedung Galeri Nasional, Jakarta (18/12).


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017oleh : Rohmah Sugiarti
16-Des-2017, 22:18 WIB


 
  Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017 PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) bersama main dealer di 36 kota Indonesia gelar kembali Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki (KAWIR). KAWIR pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2014 dan 2015 lalu. Kali ini
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Mengenang Hari Juang Kartika 13 Des 2017 11:39 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia