KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalKemnaker Beri Contoh Ruangan Laktasi dan Daycare Ideal Bagi Perusahaan BUMN dan Swasta oleh : Rohmah Sugiarti
21-Aug-2017, 04:31 WIB


 
 
KabarIndonesia – Tepat sehari setelah hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 (18/8), Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, meresmikan Taman Penitipan Anak dan Ruang Laktasi yang dibangun di lantai M Gedung B, Gedung Kementerian Ketenagakerjaan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
selengkapnya....


 


 
BERITA PARIWISATA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Cindai 19 Aug 2017 19:43 WIB

Lirih Rindu 19 Aug 2017 19:41 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
PARIWISATA

Geopark sebagai Strategi Alternatif Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Samosir dan Kawasan Danau Toba (2)
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 19-Jun-2017, 21:04:59 WIB

KabarIndonesia - Untuk mengembangkan pariwisata di kawasan Danau Toba khususnya di Samosir, berbasis geopark (geowisata) yang dapat memberikan kontribusi positif kepada semua pihak tentulah bukan suatu hal yang mudah dan cepat. Banyak kendala dan hambatan yang dihadapi dalam proses tersebut, terlebih lagi bila dilihat dari unsur sapta pesona dan geopark.  

Kesulitan utama yang dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Samosir adalah koordinasi dan kebersamaan antara masyarakat dan pemerintah daerah di geoarea lainnya. Artinya Samosir tidak dapat bekerja atau melakukan pengembangan sendiri untuk memenuhi rekomendasi Unesco dalam pengusulan Geopark Kaldera Toba. 

 

Di kawasan danau toba yang terdiri dari tujuh kabupaten umumnya memiliki kekayaan potensi geopark yang hampir sama. Kawasan ini didiami etnis Batak dengan sejarah, alam, tradisi budaya. Secara spesifik terdapat “pembagian” wilayah, yaitu Samosir, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara didiami sub etnis Toba, Simalungun dengan mayoritas sub etnis Simalungun, Tanah Karo didiami warga sub etnis Karo, Dairi dan Pakpak Bharat dihuni oleh mayoritas sub etnis Pakpak. Karena itu, peran Gubernur Sumatera Utara sangat penting untuk mengarahkan dan mengoordikasikan pemerintah dan masyarakat di tujuh daerah kawasan Danau Toba, termasuk memfasilitasi organisasi dan pembiayaan pembangunan geopark kaldera toba.

 

Sesuai dengan visi dan misi pembangunan pariwisata Samosir, sejak tahun 2010 Pemerintah Kabupaten Samosir telah melakukan kegiatan untuk mewujudkan Geopark Kaldera Toba. Visi dan misi tersebut semakin dipertegas oleh Bupati Samosir Rapidin Simbolon yang menetapkan pembangunan pariwisata dan pertanian berbasis geopark. Artinya segala kegiatan, usaha dan upaya yang dilakukan oleh SKPD, masyarakat dan segenap stakeholder Samosir diarahkan untuk mewujudkan Geopark Kaldera Toba.

 

Selain memiliki sejarah peristiwa geologi dan terbentuknya pulau Samosir, kabupaten Samosir memiliki beragam potensi yang spesifik antara lain potensi alam yang indah dan menakjubkan, tanah yang relatif subur. Daerah ini juga dikenal sebagai asal muasal etnis Batak, dengan bahasa, aksara, adat-istiadat, hukum (aturan) dan tradisi yang masih dilakoni oleh masyarakat. Karenanya sejak tahun 2008, pemerintah daerah mempromosikannya sebagai destinasi dan objek wisata alam, wisata sejarah-adat budaya, wisata rohani/ritual, wisata minat khusus ( olahraga tantangan dan belanja-kuliner).  

 

Bila diperhatikan secara lebih mendalam kondisi pariwisata Samosir saat ini, terdapat hal-hal yang harus mendapat perhatian khusus dari pihak–pihak terkait (stakeholder-shareholder). Sejalan dengan perkembangan pembangunan, keragaman potensi yang dimiliki berdampak pada munculnya berbagai masalah dan persoalan, utamanya seputar kepariwisataan. Artinya ketika sebuah program (pariwisata) diluncurkan, secara langsung atau tidak langsung akan terjadi masalah untuk memenuhi unsur-unsur ‘sapta pesona’ dan konsep/asas geopark sesuai rekomendasi Unesco.

 Menurut hemat penulis, hal mendesak harus dipersiapkan dan dilaksanakan adalah menyangkut infrastuktur fisik, aksesibilitas, amenitas, lingkungan hidup. Demikian juga terhadap infrastruktur sosial seperti tradisi, adat istiadat, seni budaya (atraksi), harus diberi perhatian khusus. Pengembangan suatu destinasi berupa daerah, resort, kawasan, atau objek berbanding lurus dengan peningkatan kunjungan/kedatangan wisatawan.  

Peningkatan kunjungan wisata dari waktu ke waktu terjadi sangat nyata dalam 4 (empat) tahap sebagai berikut:

1. Tahap pertama, merupakan awal dari perkembangan ditandai dengan jumlah wisatawan, tetapi kurang signifikan.2. Pada tahap kedua, jumlah wisatawan meningkat tajam ketika dilakukan perbaikan atas kondisi objek.3. Tahap ketiga, perkembangan jumlah wisatawan mulai melambat bahkan mungkin berhenti. Hal ini bisa terjadi disebabkan karena kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup (fisik). Penurunan pertumbuhan jumlah wisatawan bisa juga karena mulai terjadi kejenuhan pasar wisata sebagai akibat ketidakpuasan wisatawan terhadap pelayanan dan kualitas daya tarik wisata.

4. Tahap keempat, mulai terjadinya kerusakan pada daya tarik wisata. Kondisi seperti ini disebut daya dukung lingkungan pariwisata telah terlampaui. “Pada hakekatnya kualitas daya tarik wisata dipengaruhi oleh daya dukungnya. Daya dukung pariwisata ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah jumlah wisatawan, aktivitas wisatawan, intensitas, pengaruh wisatawan, kualitas dan daya pulih secara alami serta tingkat pengelolaan. (Sugeng Handoko, www.gunungapipurba.com).

  Akan halnya kabupaten Samosir pada saat ini telah menghadapi tahapan yang disebutkan di atas, kalau tidak salah sudah masuk ke tahapan keempat. Artinya dengan perkembangan pariwisata yang belum mencapai puncaknya tetapi diprediksi daya tampung-kapasitas (carrying capacity) geoarea Samosir sangat terbatas. Kondisi ini dapat dilihat dari tahapan pertumbuhan kunjungan wisatawan.  

Tidak dapat dipungkiri, secara kuantitas Samosir memiliki beragam objek-destinasi, daya tarik wisata baik yang sudah dimanfaatkan maupun yang akan digali. Potensi dan kekayaan ini dapat menarik perhatian seluruh dunia sejak 40 tahun yang lalu, namun dalam kurun waktu 10-20 tahun belakangan ini kualitasnya sudah mengalami degradasi/penurunan.

 Ditetapkannya kawasan danau toba sebagai geopark nasional harus dipahami sebagai peluang bagi Samosir untuk dibangun menjadi destinasi wisata geologi (geowisata) yang akan memberi manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat. Dikaitkan dengan penurunan kondisi kawasan danau toba seperti disebutkan di atas, maka dibutuhkan upaya pemulihan, dalam arti mengembalikan dan mempertahankan keaslian, keutuhan, dan kelestarian daya tarik wisata.  

Tentu, pola pemulihan dan pengembangan kepariwisataan harus didasarkan pada potensi dasar yang dimilikinya. Sebab semakin rentan suatu kawasan wisata terhadap kerusakan dan penurunan kualitas maka pengembangannya harus kembali berdasar potensi dasarnya. Disinilah peran dan komitmen Pemerintah dan partisipasi masyarakat (umumnya objek/usaha pariwisata milik swasta/perorangan) untuk melakukan pembinaan.

Sejalan dengan perkembangannya, beberapa hal potensi alam/wisata yang perlu mendapat perhatian dan komitmen untuk pemulihan antara lain:

a. Alam dan lingkungan kabupaten (pulau) Samosir terus dimanfaatkan tanpa adanya perhatian untuk menjaga kelangsungan dari alam itu sendiri. Kerusakan lingkungan mulai terlihat di beberapa tempat yang dijadikan daerah tujuan wisata. Pencemaran lingkungan dan air danau toba oleh perusahaan dan usaha pariwisata. Pengelolaan kebersihan (sampah) di berbagai objek dan desa tidak terjaga. Penggalian tanah, batu, pasir pada tempat-tempat yang seharusnya tidak diperkenankan. Pembakaran/kebakaran lahan yang berlangsung tiap tahun. Penebangan kayu secara sembarangan. Penggunaan bahan-bahan kimia untuk pertanian termasuk pembuangan limbah usaha/rumah tangga secara sembarang. Hal tersebut terjadi karena masyarakat lupa akan pentingnya lingkungan ini dengan selalu berorientasi pada keuntungan pribadi. Oleh karena itu, diperlukan adanya harmonisasi dengan alam untuk menjadikan Samosir tetap sebagai destinasi wisata dengan keindahan dan potensi alam yang beragam.

Harus dipahami pengelolaan/pemanfaatan potensi alam dan lingkungan tidak boleh hanya ditinjau dari keuntungan ekonomi dan legalitas tetapi harus memperhatikan keberlangsungan dan kelanjutan hidup masyarakat. Apalagi secara geologis Samosir merupakan tinggalan supervolcano letusan gunung Toba dengan struktur bumi yang rentan terhadap pergeseran, sehingga dalam Undang-undang Tata Ruang ditetapkan sebagai zona putih.


b. Samosir memiliki daerah–daerah yang seharusnya perlu mendapatkan perhatian khusus dan berlanjut, antara lain kawasan pariwisata Ambarita, Tuktuksiadong, Siallagan, Tomok, Simanindo, Pasir Putih, Aek Rangat dan Simbolon, kota Pangururan, kawasan Pusuk Buhit, kawasan Tele, kawasan air terjun Efrata dan kawasan lainnya. Kawasan pariwisata tersebut mempunyai potensi yang begitu besar sebagai pendukung kegiatan ekonomi masyarakat kawasan danau toba pada umumnya dan geoarea Samosir pada khususnya. Di kawasan-kawasan ini memerlukan penanganan inovatif dari pemerintah daerah antara lain regulasi usaha, kelengkapan fasilitas umum, akses transportasi-komunikasi.
 

c. Turunnya permukaan air danau toba telah menimbulkan tanah pantai (tanah pengeahan) yang makin luas (puluhan meter) yang mendorong para pemilik lahan mengklaim sebagai miliknya dan mereklamasinya sendiri. Timbul persoalan dan perebutan tanah timbul antar masyarakat pemilik lahan bahkan fasilitas umum seperti dermaga kapal pun tidak lagi mempunyai tempat. Sesungguhnya pengaturan akan tanah timbul pantai ini sudah pernah diatur dengan Peraturan Daerah Sumatera Utara (No.1 Tahun 1990) yang menetapkan batas pengelolaan tanah masyarakat adalah 50 meter dari bibir pantai pada permukaan air danau toba 905 dpl. Namun Perda tersebut tidak ditindaklanjuti dan terkesan dibiarkan hingga saat sekarang persoalan ini muncul kembali. Diharapkan pihak pemerintah daerah (Samosir) bersama wakil rakyat segera menyusun regulasi-peraturan daerah tentang penetapan status tanah timbul dan pengelolaannya.

 

d. Ditetapkannya Geopark Kaldera Toba dan Danau Toba menjadi salah satu dari 10 destinasi wisata unggulan di Indonesia, maka terbukalah kawasan ini untuk menerima investasi-penanaman modal terutama di bidang usaha pariwisata.

 Sejak tahun 2016, diperoleh informasi bahwa banyak investor asing (terutama warga China-WNI) yang berhasil membeli tanah masyarakat untuk dijadikan sebagai lokasi usaha pariwisata (hotel, restoran, waterpark, taman wisata) terutama di kawasan pinggiran/pantai danau toba. Hal ini memicu perbedaan pendapat antara masyarakat lokal dengan masyarakat perantau yang tidak menginginkan tanah dijual pada pihak asing, tetapi dikontrakkan (hak guna bangunan-hak guna usaha), atau metoda pembagian saham. Dalam hal ini Pemerintah Daerah diharapkan dapat segera mengeluarkan regulasi tentang pengelolaan dan penjualan tanah masyarakat, demikian juga aturan dan prosedur investasi di Samosir.(Bersambung) (*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Astra Pertahankan Tradisi Upacara di HUT ke-72 Kemerdekaan RI 2017 Upacara pengibaran bendera menjadi tradisi seluruh direksi dan karyawan anak perusahaan dan kantor cabang Astra di seluruh Indonesia. Ini merupakan wujud kecintaan Astra terhadap bangsa dan negara. Nampak Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto bertindak sebagai pembina upacara
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Uang Bukanlah Sumber Kebahagiaan 26 Jul 2017 16:09 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia