KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Jakarta,  Saat ini Indonesia dalam keadaan darurat ekologis yang mengancam kelangsungan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena itu Walhi bersama rakyat pengelola sumber daya alam, organisasi masyarakat sipil, dan unsur lainnya mendesak pemerintah kini dan ke depan menjalankan dan
selengkapnya....


 


 
BERITA PARIWISATA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Jatuh Cinta Kepada Telaga 26 Nov 2017 11:31 WIB

Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
PARIWISATA

Faktor Lingkungan Dan Prasarana Jalan
Oleh : Dr Rochajat Harun Med. | 21-Des-2008, 09:33:56 WIB

KabarIndonesia
FAKTOR LINGKUNGAN DAN PRASARANA JALAN JAWA BARAT
YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN PARIWISATA

Kondisi geologi Jawa Barat, merupakan kekayaan daya tarik wisata. Jawa Barat yang terdiri dari dataran rendah, berbukit serta bergunung - gunung dan pantai, dengan ketinggian berkisar antara 0 sampai dengan 1.500 meter, membentuk daya tarik wisata yang khas pada lokasi - lokasi tertentu, seperti gunung - gunung di bagian tengah Jawa Barat serta daerah berbukit dengan sedikit pantai di sebelah selatan.

Gunung, bukit, dan pantai tersebut merupakan ragam daya tarik wisata yang terdiri dari sungai - sungai besar yang lebarnya lebih dari 100 meter, seperti Sungai Citarum, Sungai Cimanuk, Sungai Cisadane dan Sungai Ciliwung. Juga menawarkan pemandangan sungai dan kegiatan arung jeram sebagai daya tarik wisata. Kondisi geologi Jawa Barat yang menjadikan Jawa Barat semakin kaya akan keberagaman daya tarik wisata ini didukung dengan kondisi cuaca dan iklim yang umumnya sejuk sehingga menjadi lebih menarik bagi wisatawan. Berikut cakupan faktor lingkungan pariwisata yang mempengaruhi pengembangan kepariwisataan di Jawa Barat.

1. Aksesibilitas, secara umum aksesibilitas Provinsi Jawa Barat dapat dikategorikan cukup baik. Aksesibilitas menuju Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) bukan hanya sekedar dapat dijangkau dengan mudah dengan berbagai model transportasi seperti kendaraan kecil dan atau mini bus bahkan bus. Untuk keperluan tersebut diperlukan kualitas jalan yang memadai.

2. Kebersihan lingkungan, menjadi cermin budaya suatu daerah. Kebersihan saat ini merupakan suatu keniscayaan. Secara umum kebersihan sekitar Objek daerah Tujuan Wisata (ODTW) sangat memprihatinkan. Hal ini sebagai dampak dari kebiasaan sehari - hari masyarakat yang masih menganggap bahwa kebersihan masih merupakan slogan, tetapi kenyataannya sangat berlainan. Membuang sampah sembarangan menjadi suatu kebiasaan yang tidak merasa bersalah. Demikian juga kebersihan di sekitar ODTW belum sepenuhnya menjadi kesadaran masyarakat termasuk para wisatawan itu sendiri.

3. Permukiman penduduk, umumnya berada disekitar ODTW dan bahkan di dalam lingkungan ODTW. Hal ini dapat berdampak pada eksploitasi wisata bagi kepentingan dirinya, tanpa memperhatikan wisatawan. Wisatawan merasa tidak nyaman jika masyarakat yang turut mengais masih di lingkungan ODTW. Wisatawan umumnya menghendaki kenyamanan terutama terlepas dari gangguan masyarakat lokal.

4. Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar ODTW, yang sama - sama diketahui relatif memerlukan uluran tangan dalam pemberdayaannya. Hal ini turut memberikan kontribusi terhadap kekurang nyamanan wisatawan. Tujuan mereka adalah memanfaatkan peluang yang ada dengan adanya wisatawan, namun penerapannya yang keliru. Hal ini tidak terlepas dari peranan Pemerintah/Pemerintah Daerah, Tokoh Masyarakat/Agama yang belum memberikan pelayanan yang prima dan kebersihan yang handal.

5. Fasilitas bagi wisatawan seperti hotel/penginapan, restoran/ rumah makan belum memadai, terutama ditinjau dari aspek pelayanan dan kebersihannya di ODTW. Setiap orang terutama wisatawan memerlukan pelayanan yang prima dan kebersihan yang handal.

6. Beberapa aspek lingkungan dalam ODTW, yang memerlukan perhatian serius antara lain kebersihan, tanda - tanda peringatan dini khusus bagi ODTW yang memerlukan perhatian khusus, tim penyelamat/rescue, guide yang ramah dan menguasai materi ODTW, tempat melepas lelah/istirahat, dan toilet yang bersih.

Selain dari pada itu, perkembangan kepariwisataan Jawa Barat dipengaruhi pula oleh keberadaan dan perkembangan jalur jalan. Di wilayah Jawa Barat secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga jalur utama, yaitu Jalur Utara, Jalur Tengah, dan Jalur Selatan. Keberadaan dan kondisi aksesibilitas jalur jalan tersebut merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata di Jawa Barat saat ini.

Pergerakan wisatawan dari sumber pasar menuju daya tarik wisata Jawa Barat dipengaruhi oleh aksesibilitas jalur-jalur jalan tersebut. Kawasan wisata Puncak misalnya, terkait erat dengan perkembangan aksesibilitas di jalur tengah antara Jakarta dan Bandung sebagai sumber pasar wisatawan dengan Bogor dan Cianjur.

Berdasarkan hal tersebut, maka perkembangan kawasan Provinsi Jawa Barat terbagi mengikuti perkembangan ke tiga jalur jalan sebagai berikut:

1. Jalur Utara, dengan jalan lintas utara (pantura) sebagai unsur utama yang mencakup seluruh atau sebagian wilayah Kabupaten/Kota Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten/Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan.

2. Jalur Tengah, dengan jalur lintas tengah sebagai unsur pengikat, yang mencakup sebagian wilayah Kabupaten/Kota Bogor, Kota Depok, sebagian sebagai unsur utama, yang wilayah Kabupaten/Kota Bekasi, Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cianjur, Kabupaten/Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, sebagian Kabupaten Garut, Kabupaten/Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar.

3. Jalur Selatan, dengan jalur jalan/pantai selatan sebagai unsur pengikat kawasan, yang mencakup sebagian wilayah Kabupaten/Kota Sukabumi, bagian selatan Kabupaten Cianjur, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis.

Tingkat perkembangan kawasan wisata di setiap jalur berbeda-beda, tergantung dari sumber daya (termasuk sarana dan prasarana) yang dimiliki, serta aksesibilitas terhadap sumber pasar wisatawan. Suatu kawasan wisata bisa berada pada tahap awal perkembangan, baru sedikit dikunjungi wisatawan, padahal memiliki potensi daya tarik wisata yang unik dan menarik. Kawasan wisata lain sudah sangat berkembang, dan bahkan mulai padat pada waktu peak season dan mulai menimbulkan permasalahan terhadap lingkungan fisik maupun sosial budaya.

Jika dilihat lebih rinci lagi di masing-masing jalur tersebut, terdapat pengelompokan daya tarik wisata yang memiliki keunggulan dengan skala provinsi, nasional dan bahkan internasional. Kelompok daya tarik wisata di kawasan Puncak misalnya merupakan kelompok daya tarik wisata vang terdapat di jalur tengah yang berbasis alam pegunungan dengan kegiatan pertanian, perkebunan dan tanaman pangan. Kelompok daya tarik di kawasan Bandung dan sekitarnya berbasis kegiatan perkotaan: industri, perdagangan dan jasa, yang didukung oleh kawasan alam pegunungan dengan kegiatan pertanian. 

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

__________________________

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017oleh : Rohmah Sugiarti
16-Des-2017, 22:18 WIB


 
  Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017 PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) bersama main dealer di 36 kota Indonesia gelar kembali Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki (KAWIR). KAWIR pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2014 dan 2015 lalu. Kali ini
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Mengenang Hari Juang Kartika 13 Des 2017 11:39 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia