KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRudiantara: 4,6 Juta UMKM Sudah Online oleh : Sesmon Toberius Butarbutar
15-Nov-2017, 21:01 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan berdasarkan data terdapat 4,6 juta UMKM dari target delapan juta UKM hingga 2019 telah masuk akses online.

"Kami punya target mengonlinekan delapan juta UMKM hingga tahun 2019, namun sekarang baru
selengkapnya....


 


 
BERITA HUKUM LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
HUKUM

Kekerasan pada Novel Baswedan Sinyal Buat Rakyat untuk Bela KPK
Oleh : Chairil Makmun | 13-Apr-2017, 22:49:32 WIB

KabarIndonesia - Jakarta, Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan disiram dengan air keras oleh orang tak dikenal, Selasa pagi (11/4/17). Saat itu dia sedang berjalan pulang selepas shalat subuh di Masjid Al Ihsan dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Akibat serangan itu, Novel mengalami luka serius pada wajah dan mata, sementara pelaku yang diduga dua orang melarikan diri mengendarai sepeda motor berboncengan.

Novel dibawa tetangganya ke Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sore harinya dia dipindahkan ke RS Jakarta Eye Center (JEC). Luka serius di matanya memerlukan perawatan intensif dan kemungkinan membutuhkan operasi. Keesokan harinya, pihak RS JEC mengumumkan atas permintaan keluarga, Novel akan dibawa ke rumah sakit di Singapura untuk menjalani operasi di bagian kornea mata.

Sangat Kebetulan
Insiden yang menimpa Novel ini sangat "kebetulan" bersamaan waktunya dengan kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) yang sedang ditanganinya. "Kebetulan" pula dengan dikeluarkannya surat pencegahan ke luar negeri oleh KPK untuk Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novianto.

Insiden ini pun "kebetulan" bersamaan waktunya dengan penundaan agenda pembacaan tuntutan jaksa dalam sidang perkara penistaan agama dengan tersangka Gubernur DKI Jakarta nonaktif Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Semua "kebetulan" tersebut kontan saja menimbulkan persepsi dan spekulasi yang aneka macam di tengah masyarakat.

Yang paling disorot tentu saja kasus korupsi KTP-el yang melibatkan banyak anggota dan mantan anggota DPR, pejabat publik, dan pengusaha swasta. Nama Ketua DPR Setya Novanto, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Yasonna Laoly, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Gubernur DKI Jakarta non-aktif Ahok sebagai mantan anggota Komisi II DPR ikut pula dibawa-bawa. Mereka diduga menerima aliran uang dari proyek ini. Skandal korupsi proyek KTP-el ini diduga merugikan negara Rp2,3 triliun.

Timbul spekulasi, orang-orang "besar" yang diduga terlibat dalam kasus ini berada di belakang layar kasus Novel. Hanya saja, siapa mereka, belum ada yang menyebut nama secara spesifik. Bahkan, Wapres Jusuf Kalla meyakini apa yang menimpa Novel berkaitan erat dengan kasus-kasus korupsi yang sedang ditanganinya. Di sini Wapres pun tidak menyebut kasus mana yang dimaksudkan.

Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar sangat yakin, kasus Novel adalah indikasi kuat perlawanan koruptor kepada KPK, sekaligus upaya nyata mereka untuk melemahkan KPK. Menurut Haris, para koruptor terus merapatkan barisan untuk "memberantas" KPK.

Karena itu, Haris meminta Polri cepat melakukan penyelidikan kasus ini agar segera terungkap siapa pelakunya. "Saya yakin, pelaku ini hanyalah orang suruhan. Jangan-jangan dia cuma dibayar Rp10 juta untuk ‘menghabisi' Novel. Aktor intelektualnya pasti bukan dia," kata Haris.

Jadi, menurut Haris, tugas polisi sekaligus pula membongkar siapa aktor intelektual tersebut. "Kalau aktor intelektualnya tidak ditemukan, maka kasus seperti Novel ini akan terjadi lagi di kemudian hari yang mungkin saja menimpa penyidik KPK yang lain, serta aparat penegak hukum lainnya," katanya.

Forum Pembela KPK

Nah, urusan penyelidikan siapa penyerang Novel dan aktor intelektualnya, biarlah polisi yang menanganinya. Itu tugas mereka. Rakyat percaya polisi bekerja secara profesional. Rasanya, tidak perlu makan waktu terlalu lama bagi polisi untuk mengungkap itu.

Bagi rakyat, apa yang terjadi pada Novel merupakan sinyal panggilan untuk segera bertindak membela KPK. Semua elemen masyarakat perlu berkumpul dan melakukan Musyawarah Nasional Rakyat (Munasrak) untuk merumuskan sikap apa yang terbaik dalam membela KPK.  Elemen rakyat tersebut, misalnya, terdiri atas kalangan profesional, akademisi, mahasiswa, karyawan/pekerja, macam-macam komunitas, organisasi massa (ormas), lembaga swadaya masyarakat (LSM), tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lain-lain.

Dalam Munasrak itu perlu ditelurkan kesepakatan bahwa rakyat harus membentuk semacam forum pembela KPK. Forum ini beranggotakan semua komunitas dan elemen rakyat yang peduli dan intens melakukan aksi mendukung pemberantasan korupsi. Singkat kata, mereka memiliki rekam jejak bagus dalam pembelaan terhadap pemberantasan korupsi.

Forum pembela KPK ini memiliki sekretariat, berkantor pusat di Jakarta, dan punya cabang di provinsi, kabupaten, dan kota seluruh Indonesia. Forum ini melakukan gerakan atau aksi secara rutin mendukung KPK, misalnya Forum ini datang ke kantor KPK sebulan sekali untuk menunjukkan dukungan-atau bisa juga semacam unjuk rasa-terhadap pemberantasan korupsi.

Forum yang turun ke KPK tidak harus selalu dari kantor pusat Jakarta saja, melainkan juga dari daerah-daerah. Tiap daerah diatur secara bergiliran kapan waktunya untuk mereka turun ke KPK.

Mengapa rakyat harus membela KPK?
Jawaban atas pertanyaan ini adalah: pertama, saat ini KPK memiliki integritas tinggi dalam pemberantasan korupsi. Kedua, KPK tidak pandang bulu dalam menangani kasus korupsi. Menteri aktif dan jenderal aktif pun diseret ke muka hukum jika terbukti korupsi.
Ketiga, KPK telah menunjukkan bahwa siapa pun, dengan jabatan apa pun, diperlakukan sama dalam pemberantasan korupsi, tidak ada yang diistimewakan atau dianakemaskan (equity before the law). Keempat, KPK bekerja profesional, berani, cermat, dan hati-hati sehingga pihak-pihak yang ditetapkan sebagai tersangka hampir tidak dapat lolos di pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor). Hanya satu-dua kasus yang mengajukan praperadilan dan KPK dikalahkan.  Kelima, KPK masih setia menunjukkan diri sebagai lembaga independen yang tidak dapat diintervensi oleh lembaga lain, termasuk oleh Presiden.

Profil Novel Baswedan

Novel Baswedan salah seorang penyidik terbaik yang pernah dimiliki KPK. Dia dikenal pemberani dan tanpa kompromi terhadap koruptor. Pria berkepala botak ini lahir di Semarang pada 22 Juni 1977, mempunyai seorang istri, Rina Emilda, dan empat anak.

Novel adalah cucu dari salah satu pendiri bangsa, anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Abdurrahman (AR) Baswedan. Sepupunya, Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kini sedang bertarung dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) Jakarta.

Perjalanan karirnya di Kepolisian RI diawali dari Akademi Kepolisian. Dia lulus pada 1998. Setahun kemudian Novel bertugas di Bengkulu hingga 2005. Tahun 2004 dia menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu berpangkat Komisaris. Dari situlah akhirnya Novel ditarik ke Bareskrim Mabes Polri. Kemudian, pada Januari 2007 ditugaskan sebagai penyidik untuk KPK dan resmi diangkat menjadi penyidik tetap KPK tahun 2014.

Karir Novel di KPK terbilang bersinar. Dialah yang berhasil membawa pulang mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin dari pelariannya di Kolombia. Dia mengungkap kasus Wisma Atlet yang turut menyeret anggota DPR dari Partai Demokrat Angelina Sondakh. Novel juga sukses menjebloskan Nunun Nurbaeti, istri mantan Wakapolri Adang Darajatun, ke penjara terkait kasus suap cek pelawat pada pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia tahun 2004.

Lulusan SMA Negeri 2 Semarang ini juga turut membongkar kasus jual beli perkara Pemilukada dengan keterlibatan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar.

Perannya sebagai ketua tim penyidik dalam kasus dugaan korupsi simulator SIM menyeret sejumlah nama petinggi Polri. Keberanian Novel menggeledah Korlantas dan memeriksa mantan Kakorlantas Polri Irjen Djoko Susilo menuai kontroversi. Peristiwa ini kembali meretakkan hubungan antara KPK dan Polri.

Kemudian, kepolisian menjerat Novel dalam kasus penembakan tersangka pencurian sarang walet kala masih bertugas di Polres Bengkulu. Mei 2015 Novel ditangkap di kediamannya, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berbagai kalangan menilai terdapat kejanggalan dalam kasus ini. Kasus tersebut terjadi pada 2004 dan sidang etik Polri telah menyimpulkan bahwa Novel bukanlah pelakunya. Namun, kenyataannya kasus tersebut dibuka kembali, saat Novel sedang gencar-gencarnya mengungkap kasus korupsi yang mengobok-obok tubuh Polri. *)


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Inspirasi 60 Tahun Astra Makassar Semarak, Target Revitalisasi 600 Halte Tercapai Senior Journalist Rappler Indonesia Uni Lubis (kanan) berinteraksi dengan 400 peserta dalam bedah buku Astra on Becoming Pride of the Nation bersama Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk Aloysius Budi Santoso (tengah), dipandu oleh Zilvia Iskandar
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia