KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTol Laut, Tol Langit dan Tol Media (Sebuah Kesaksian Untuk HUT ke-13 HOKI) oleh : Wahyu Ari Wicaksono
12-Nov-2019, 01:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sekarang ini perkembangan teknologi media telah berkembang dengan luar biasa. Apalagi ketika muncul teknologi yang disebut sosial media. Kemunculan sosial media telah membuat banyak hal berubah. Mulai dari industri, bisnis, kehidupan sosial, gaya hidup dan banyak lainnya. Salah
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Pasang Surut Sastra Bandingan

 
BUDAYA

Pasang Surut Sastra Bandingan
Oleh : Gunoto Saparie | 02-Jun-2019, 07:39:56 WIB

KabarIndonesia - Sastra bandingan adalah salah satu dari sekian banyak pendekatan yang dibahas dalam ilmu sastra. Harus diakui, penelitian sastra bandingan di Indonesia belum terlalu populer dibandingkan bentuk penelitian sastra lainnya. Kalau pun ada, masih terbatas pada kajian bandingan terhadap dua karya secara intrinsik. Ia masih berkutat pada masalah struktur karya. 

Mengacu pada kamus Webstern, sastra bandingan adalah teknik analisis yang mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan atau berbeda bahasa, dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra lain.

Holman mengungkapkan, bahwa sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain, serta ciri-ciri yang dimilikinya.

Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa sastra bandingan bukan hanya sekadar mempertentangkan dua sastra dari dua negara atau bangsa. Sastra bandingan juga tidak terpatok pada karya-karya besar walaupun kajian sastra bandingan sering kali berkenaan dengan penulis-penulis ternama yang mewakili suatu zaman. Kajian penulis baru yang belum mendapat pengakuan dunia pun dapat digolongkan dalam sastra bandingan. Batasan sastra bandingan tersebut menunjukkan bahwa perbandingan tidak hanya terbatas pada sastra antarbangsa, tetapi juga sesama bangsa sendiri, misalnya antarpengarang, antargenetik, antarzaman, antarbentuk, dan antartema.

Menurut Rene Wellek dan Austin Warren, istilah sastra bandingan pertama dipakai untuk kajian studi sastra lisan, cerita rakyat dan migrasinya, bagaimana dan kapan cerita rakyat masuk ke dalam penulisan sastra yang lebih artistik. Istilah sastra bandingan dalam hal ini, mencakup studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Sastra bandingan disamakan dengan studi sastra menyeluruh. Sedangkan Budi Darma mengatakan bahwa sastra bandingan lahir dari kesadaran bahwa sastra tidak tunggal, namun sastra itu plural, serta semua sastra ada kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaannya. Kesamaan dapat terjadi karena masalah manusia, sebagaimana yang terekam dalam sastra, pada hakikatnya universal, dan perbedaan-perbedaan terjadi karena mau tidak mau sastra di dominasi oleh situasi dan kondisi tempatan. 

Dalam sastra bandingan, perbedaan dan persamaan yang ada dalam sebuah karya sastra merupakan objek yang akan dibandingkan. Remak menjelaskan bahwa dalam sastra bandingan yang dibandingkan adalah kejadian sejarah, pertalian karya sastra, persamaan dan perbedaan, tema, genre, style, perangkat evolusi budaya, dan sebagainya. Remak lebih jauh juga memberikan batasan tentang objek sastra bandingan.

Menurut Remak, yang menjadi objek sastra bandingan hanyalah karya sastra nasional dan karya sastra dunia (adiluhung). 
Pendekatan sastra bandingan pertama kali muncul di Eropa awal abad ke-19. Ide tentang sastra bandingan dikemukan oleh Sante-Beuve dalam sebuah artikelnya yang terbit tahun 1868. Dalam artikel tersebut dijelaskanya bahwa pada awal abad ke-19 telah muncul studi sastra bandingan di Prancis. Sedangkan pengukuhan terhadap pendekatan perbandingan terjadi ketika jurnal Revue Litterature Comparee diterbitkan pertama kali pada tahun 1921.

Penelitian sastra bandingan berangkat dari asumsi bahwa karya sastra tidak mungkin terlepas dari karya-karya yang telah ditulis sebelumnya. Boleh dibilang bahwa penelitian sastra bandingan tak mungkin dilepaskan dari unsur kesejarahannya. Karya sastra lahir pada masyarakat yang memiliki konvensi, tradisi, pandangan tentang estetika, dan tujuan berseni, yang kemungkinan justru merupakan rekaman terhadap pandangan masyarakat tentang seni. Karya-karya besar biasanya yang mengilhami karya sastra selanjutnya. Akan tetapi, bisa juga sebaliknya, karya besar justru lahir karena terinspirasi karya kecil yang dicipta sebelumnya. 

Sampai hari ini dalam kajian sastra bandingan dikenal ada dua mazhab utama yakni mazhab Prancis dan Amerika. Sastra bandingan versi mazhab Prancis hanya membolehkan pengkajian karya sastra dengan jenis karya yang sama dan setara. Sejenis dan setara yang dimaksud misalnya puisi dengan puisi, cerpen dengan cerpen, naskah drama dengan naskah drama, dan seterusnya. Meskipun pada akhirnya hal ini juga mengalami perkembangan melalui berbagai terobosan, misalnya puisi dengan novel, drama dengan roman dan seterusnya. 
Sedangkan versi mazhab Amerika menganggap pengkajian sastra bandingan seharusnya tidak sebatas itu saja. Dengan alasan itu, mazhab ini pun memperkenalkan pengkajian perbandingan karya sastra dengan disiplin seni lain, misalnya puisi dengan lukisan, puisi dengan patung, cerpen dengan lagu, atau puisi dengan seni arsitek. 

Meskipun demikian, Maman S. Mahayana menunjukkan ada dua hal yang sangat mungkin menjadi problem dalam sastra bandingan sebagai sebuah disiplin ilmu. Pertama, persoalan yang menyangkut konsep sastra bandingan. Dalam banyak rumusan atau definisi sastra bandingan pada umumnya, penekanan perbandingan pada dua karya atau lebih dari sedikitnya dua negara yang berbeda menjadi pusat perhatian yang utama. Ini berarti, sebuah perbandingan dua karya atau lebih yang berasal dari dua negara, termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan.

Persoalannya, kalau kita membandingkan dua karya yang berasal dari dua kultur etnik yang berbeda? Sunda dan Jawa, misalnya? Padahal kedua karya itu berada dalam wilayah negara yang sama. Apakah ia termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan? Pertanyaan yang sama dapat diajukan ketika kita membandingkan sastra Singapura dengan sastra Taiwan yang keduanya memakai bahasa Mandarin atau sastra Brunei Darussalam dengan sastra Malaysia yang keduanya memakai bahasa Melayu. Dalam konteks itulah, maka kita agaknya perlu mempertanyakan kembali rumusan-rumusan sastra bandingan yang pernah ada.
 
Memang, sastra bandingan sebagai suatu disiplin ilmu mengalami pasang surut. Sastra bandingan adalah studi kesusastraan yang melebihi batas suatu negara, dan studi hubungan antara kesusastraan di satu pihak, dan wilayah lainnya dari pengetahuan dan kepercayaan, seperti seni, filsafat, sejarah, ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, dan agama. 

Sastra bandingan, seperti dikemukakan di atas, mempunyai dua aliran, yaitu aliran Prancis dan aliran Amerika. Aliran Perancis dipelopori oleh Paul van Tieghem, Jean Marie Carre, dan Marius Francois Guyard, sedangkan aliran Amerika dipelopori oleh Sekolah Amerika. Pengertian bahwa bahasa merupakan perbedaan pokok dalam kajian sastra bandingan merupakan prinsip yang paling luas diterima. Akan tetapi, berpegang pada kaidah bahasa, banyak bahasa di beberapa negara yang sama, seperi bahasa Inggris, bahasa Melayu, bahasa Arab, dan bahasa yang lain menjadi bahasa nasional di beberapa negara. Oleh karena itu, perbedaan bahasa dalam perkembangan sastra bandingan bukanlah menjadi kaidah utama.(*) 
 
*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia