KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanIndonesia Memanggil 8348 Putra-Putri Terbaik Bangsa Mengisi 8 Sekolah Kedinasan oleh : Syaiful Safril
07-Mar-2017, 16:49 WIB


 
 
KabarIndonesia. com,- Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi merilis pengumuman Nomor: 125/S.SM.01.00/2017 tanggal 1 Maret 2017 Tentang Penerimaan Calon Siswa-Siswi/Taruna-Taruni pada Kementerian Lembaga/Lembaga yang Mempunyai Lembaga Pendidikan Kedinasan Tahun 2017.

Seperti dilansir dari laman website Kemenpan
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Walau Satu Detik Bersama Tuhan 10 Mar 2017 04:05 WIB

Kelamnya Februariku 03 Mar 2017 08:33 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
BUDAYA

Migran Indonesia Lebih Pilih "Warga Lokal"
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 20-Des-2011, 07:12:29 WIB

KabarIdonesia - Kelompok migran Indonesia di Belanda lebih banyak memilih pasangan orang Belanda dibanding pasangan di lingkungannya sendiri. Hal ini berlawanan dengan kelompok migran lainnya seperti dari Maroko dan Turki.  

Menurut catatan Biro Pusat Statistik Belanda CBS, migran asal Maroko dan Turki kebanyakan memilih pasangan “orang mereka sendiri”. Sebanyak 90 persen memilih mereka yang sudah tinggal di Belanda. Sedangkan satu dari sepuluh orang Maroko dan Turki mendatangkan pasangannya dari negeri asal mereka.

Sementara migran Indonesia di Belanda terbagi dalam dua kelompok, tutur Hartati Nurwijaya, pengarang buku pernikahan campur Love and Shock yang tinggal di Yunani. Pertama, orang Indonesia generasi kedua dan ketiga yang sudah berasimilasi dan kelompok kedua adalah orang Indonesia pendatang.  

Kejutan budaya
“Bagi orang Indonesia yang sudah sudah lama menetap di Belanda, misalnya generasi kedua dan ketiga,  menikah dengan orang Indonesia dianggap sebagai suatu kejutan budaya,” ujar Hartati Nurwijaya lulusan Fisipol UGM tersebut.

Kelompok ini, tutur Hartati tidak mau menikah dengan orang Indonesia asli, karena mereka sulit berkomunikasi dengan orang yang berbeda latar belakangnya. Mereka lebih suka menikah dengan orang yang telah memiliki budaya dan pemikiran yang sama.

Kelompok ini tuturnya sudah sampai tahapan keempat atau tahap asimilasi. “Jadi kalau menikah dengan orang Indonesia itu sudah beda budayanya.”

Sementara kelompok lainnya, tambah Hartati adalah kelompok migran yang datang ke Belanda dengan alasan lain. “Salah satu alasan adalah mereka itu menikah berdasarkan kebutuhan ekonomi. Mereka tidak mau menikah dengan sesama orang Indonesia atau orang dari kelompok pendatang lainnya.”

Hartati melanjutkan, sebaliknya orang Indonesia tidak menarik untuk migran lainnya terutama bagi migran dengan latar belakang agama yang kuat seperti dari Maroko dan Turki.

 

Komunikasi
Lain halnya dengan Aditya Lingga Jaya, yang sudah sejak tahun 1985 tinggal di Belanda. Ia menikah bukan dengan perempuan Belanda, melainkan dengan orang Indonesia. Dalam pernikahan tuturnya komunikasi adalah hal yang paling penting.

“Sebetulnya itu hanya masalah comfort aja. Bicara dan bercanda kan sudah satu gelombang. Terus masalah pengertian dan latar belakang kan sudah sama-sama saling kenal,” tuturnya. Sementara, tambah Aditya, bahasa juga tidak menjadi masalah. Kalau bicara bahasa Belanda dengan orang Belanda memang bisa, tapi tidak bisa mengungkapkan semua yang ingin dikatakan. “Bahasa adalah barrier, karena itu bukan bahasa kita. Terus yang kedua juga masalah agama. Kan kalau orang Indonesia sudah mengetahui sama-sama bagaimana Islam di Indonesia.”  

Tekanan sosial
Sosiolog Dian Paramita yang sering melakukan penelitian masalah migran di Belanda, mendukung pendapat bahwa orang Indonesia di Belanda yang sudah lama tinggal di negeri kincir angin ini kebanyakan memilih pasangan warga lokal.

“Kelompok migran dari Maroko atau Turki memiliki tekanan sosial yang lebih besar dibanding orang Indonesia. Tekanan itu berasal dari lingkungan mereka sendiri,” kata Dian.

Lain halnya dengan orang Indonesia yang bebas memilih pasangan masing-masing. Di Indonesia saja tidak ada keharusan orang dari suku tertentu menikah dengan sesama sukunya.

Sementara, tambahnya, orang Turki atau Maroko melihat perkawinan secara berbeda. “Perkawinan bukan wewenang individu tapi wewenang keluarga yang sangat absolut. Orang tua posisinya dominan, karena perkawinan merupakan investasi bagi mereka. Berharap sang istri akan memelihara orang tua jika mereka sudah tua.”

 

Integrasi
Aditya Lingga Jaya tidak khawatir akan soal integrasi di Belanda, walaupun ia menikah dengan sesama orang Indonesia. Malah menurutnya menguntungkan dengan memberi contah hal-hal yang baik dari Indonesia dan tidak berbenturan dengan budaya barat. “Kita kan tidak nyeleneh, seperti inilah orang Indonesia: bekerja, punya keluarga, punya anak. Lagi pula istri saya juga ikut kursus bahada Belanda,” tutur Aditya yang bekerja sebagai konsultan teknik.

Sekarang tinggal pilih mana? Kesamaan latar belakang budaya atau kembali menyesuaikan diri anda dalam pernikahan dengan latar belakang yang berbeda.



Sumber: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/migran-indonesia-lebih-pilih-warga-lokal




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Jet VIP Puspenerbad TNI AD 19 Mar 2017 06:31 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Berdoa untuk Perdamaian Dunia 11 Mar 2017 19:07 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia