KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PolitikLolos di Kemenkumham RI, Partai Rakyat Segera Tampung Aspirasi Masyarakat oleh : Rohmah Sugiarti
24-Sep-2017, 17:58 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Partai Rakyat yang pertama kali deklarasi pada 15 Agustus 2015 di Ancol berhasil lolos di Kemenkumham RI dan resmi berbadan Hukum dari Kemenkumham (Kementerian Hukum & Ham) RI.

Partai Rakyat yang dilahirkan dengan slogan "rakyat
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
KOMUNIS 23 Sep 2017 03:41 WIB

Kisah Negeri Antah Berantah 22 Sep 2017 09:23 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Membaca Puisi, Kondisi yang Mewaris

 
BUDAYA

Membaca Puisi, Kondisi yang Mewaris
Oleh : Rahmat Sularso Nh | 15-Des-2011, 16:35:02 WIB

KabarIndonesia - Pembelajaran Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah khusunya pada jenjang pendidikan menengah atas sudah lebih menyentuh kepada kekontekstulan perkembangan Pendidikan Bahasa dan Sastra itu sendiri. Artinya materi-materi ajar yang di suguhkan sudah tidak lagi terbatasi oleh referensi atau kumpulan data milik guru secara pribadi.

Memulai membuka lembar-lembar perkembangan kesusastraan Indonesia akan menimpulkan keterbukaan onformasi yang sangat luar biasa. Pada bagian ini peranan penting itu terdapat pada guru. Peranan guru sebagai pemimpin saat proses pembelajaran berlangsung menyebabkan alur literasi yang apik haruslah terbangun. Upaya tersebut bisa dilakukan kapan saja dalam waktu persiapan misalnya berbetuk materi ajar atau menjebataninya melalui media pembelajaran.

Tujuannya jelas, bukan sekedar memberikan rasa baru pada pembelajaran Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia sehingga pelajar pun akan mengenal, mengerti, serta memahami bagaimana sebenarnya bentuk-bentuk kesusastraan Indonesia kini. Sudah keluar dari belenggu sosok pendahulunya semacam Amir Hamzah, Sutardji Colzum Bachri, Taufik Ismail, Chairil Anwar dan lain sebagainya. Penyair-penyair besar itu tetaplah patut menjadi teladan namun tidak untuk mendominasi.

Banyak sekali penulis dan penyair daerah mulai merangkak menunjukan kekaryaan mereka dalam banyak bentuk karya sastra. Kembali pada persoalan lokalitas produk masyarakat daerah itu sendiri. Misalnya di Kabupaten Jombang tidak kurang banyak penulis yang sudah mulai merambah ke pelbagai media lokal maupun nasional. Sebut saja Fahrudin Nasrullah, Sabrank Suparno, Siti Sa'adah, Fathoni Mahsun atau siapa saja yang bergerak pada kantong-kantong kesusastraan dalam kelembagaan pendidikan baik masih tataran sekolahan, perguruan tinggi, dan komunitas yang di gerakan secara kelompok mereka sendiri. Kekaryaan meraka bisa menjadi sumber belajar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia selain mempunyai referensi baru akhirnya mereka mengenal jika di Kabupaten Jombang ada geliat kesusastraannya.    
       
Sampai saat ini puisi di pandang bentuk karya sastra yang paling mudah di tuliskan dan di baca. Belum menuju pada apresiasi menentukan kadar struktural bangunan puisi mulai secara fisik sekaligus batinnya. Tetapi upaya menyambung keterampilan menulis itu di lanjutkan pada tahapan selanjutnya membaca. Jika pelajar membacakan puisi tulisannya sendiri maka nilai rasa memiliki kelebihan ketimbang harus membacakan puisi orang lain. Bisa jadi dalam interpretasi sebuah puisi terjadi kesalahpahaman sehingga berimbas pada visualisasinya ketika membacakannya.

Proses memaknai puisi menemukan titika kepenulisan adalah salah satu aspek penting yang bisa mendorong proses membaca puisi yang menarik dan tidak lagi konvensional. Bahkan dalam sebuah dialog Cucuk Espe dan Anjrah Lelono Broto sering kali menyebutkan idom "Alay" saat melihat ekspresi berlebihan pembacaan puisi pelajar. Segala kemungkinan-kemungkinan tersebut sangatlah mungkin terjadi apabila keterbatasan referensi beserta langka-langkah yang perlu di persiapkan agar matang menampilkannya. 
           
Pematangan persiapan tersebut terakada disalahartikan sebagai latihan saja. Mempelajari puisinya pun termasuk tahapan persiapan yang semestinya dilakukan oleh pembaca puisi. Analisis struktural dan batin akhirnya terlibat agar pembaca mempunyai alasan kuat dalam menampilkan pembacaan puisinya. Keterlibatan peran serta guru sebagai pendamping terkadang malah menjadi boomerang bagi peserta didik.

Boomerang itu bersifat "dekte-dekte" yang di perlihatkan oleh peserta didik jika sebenarnya itu merupakan sosok gurunya. Kondisi itu di sebut Lurah Lembah Pring Jombang Jabbar Abdullah dalam obrolan di warung kopi merupakan penjelmaan gurunya. Latarbelakang Jabbar Abdullah mengatakan seperti itu setelah menjuri lomba pembacaan puisi dalam rangka Bulan Bahasa tahun 2011 Madrasah Aliyah Negeri Se Kabupaten Jombang puluhan pembaca puisi dari peserta didik secara keseluruhan cara membacakannya hampir sama.

Terdapat kesalahan menafsirkan puisi sehingga antara gerakan, vocal, intonasi, dan unsur pembangun ketika membaca puisi tidak koherensi. Bahkan di akuinya secara pribadi dari sekian banyak pembaca yang terlibat tidak banyak yang mampu menyita perhatiannya. Artinya kesenjangan infromasi dan pengalaman menyaksikan pembacaan puisi dengan pelbagai jenis puisi dan bentuk pembacaannya pun sangat terbatas. Padahal beragam akses sekarang sudah tersedia dalam menemukan literature baru model dan ragam pembacaan puisi dengan memanfaatkan jaringan internet dan media pendukung lainnya. 
          
Dominasi guru yang mendampingi pun tidak luput dari kondisi seperti ini. Dari tahun ke tahun masih menggunakan model-model konvensional tanpa di berikan sentuhan perubahan dalam bermacam aspek pembacaan puisi yang baru membuat kondisi ini bak rumput yang tidak di cabut akan terus tumbuh meski sudah di tebas parang. Keberanian mendekonstruksi ulang adalah solusi yang saat ini saya pandang masih sangat efektif.

Geliat kesusastraan di Kabupaten Jombang secara individu, komunitas, atau keterbukaan Pemerintah Kabupaten Jombang sudah sangat mendukung untuk memberikan pengenalan terbaru kepada peserta didiknya. Merefleksikan pemaham dan membaca puisi di Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bermuara kendali pada guru terlepas keberadaan peserta didik di luar lingkungan sekolah. Bentuknya yang paling mudah di mulai mengenalkan penulis atau penyair-penyair baru atau bisa jadi berasal dari daerahnya.

Mengakal dolen (Jawa: Bermain) ke pelbagai acara kesusastraan apalagi jika di sana terdapat mimbar apresiasi membaca sastra. Pilihan pendekatan yang di gunakan akan mempunyai pengaruh besar terhadap peserta didik. Maka dengan begitu yakinilah jika ingin tidak menjadi sebuah kondisi yang mewaris harus berani bergerak dan mencoba hal-hal baru meski terasa aneh dan asing. (*)


Rahmat Sularso Nh., Penggiat Komunitas Gubug Liat Jombang dan Penyiar Radio Suara Pendidikan Jombang


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com/


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Menhub Budi Karya Ajak Terus Gemakan Keselamatan Berlalu Lintasoleh : Rohmah Sugiarti
24-Sep-2017, 17:56 WIB


 
  Menhub Budi Karya Ajak Terus Gemakan Keselamatan Berlalu Lintas Siswa-siswa SDN 028067 Kota Binjai selesai mewarnai gambar dengan tema keselamatan lalu-lintas (24/9). Menteri Perhubungan Republik Indonesia Budi Karya Sumadi membuka kegiatan Inspirasi 60 Tahun Astra sekaligus mencanangkan Kampung Berseri Astra Cengkeh Turi, Binjai, Sumatera Utara sebagai Kampung Ramah Anak
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia