KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Tepat 45 tahun lalu, Argopandoyo Tri Hanggono dilahirkan di Kota Jakarta, sebagai anak ketiga dari pasangan W. Sudaryo dan Martha Beetje.

Ayah dua anak ini memiliki ketertarikan pada dunia jurnalistik sejak mengikuti kegiatan penerbitan Warta Yohanes
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

Korupsi dalam Kajian Psikoanalisis

 
BUDAYA

Korupsi dalam Kajian Psikoanalisis
Oleh : Abdy Busthan | 26-Jul-2017, 16:58:00 WIB

KabarIndonesia - Isu tentang korupsi memang selalu hangat untuk diterawang, mengingat korupsi merupakan salah satu bentuk patologi sosial yang selalu ada dalam setiap peradaban. Tidak peduli peradaban kuno, modern atau pasca modern sekalipun, korupsi selalu hadir dan terkait dengan kepentingan banyak orang. Korupsi juga tidak mengenal status sosial, jabatan maupun latar belakang keagamaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa sekarang ini korupsi sudah menjadi semacam agama baru. Hal lain yang juga menarik adalah korupsi bukan saja terjadi dalam institusi-institusi sekuler, melainkan juga dalam institusi keagaman.

Ternyata korupsi benar-benar tidak mengenal aliran keagamaan dan iman apapun. Kapanpun, siapapun, dan di mana saja hantu korupsi selalu siap mengerogoti martabat orang-orang yang konon disebut beriman. Di dunia politik apalagi. Ada tendensi, korupsi sudah menjadi ‘program utama' partai maupun pelaku politik. Praktek korupsi juga sudah menjadi semacam pekerjaan pokok para pejabat mulai dari pusat sampai desa-desa di seluruh wilayah negeri ini.

Di era otonomi saat ini, korupsi telah berpindah situs dari Jakarta ke daerah-daerah, walaupun, Jakarta masih menjadi top scorer terbesar di negeri ini. Pertanyaan yang menggelitik untuk dicermati adalah, mengapa korupsi tidak bisa lenyap, bahkan semakin menggila? Mengapa Persepsi Indeks Korupsi Indonesia belum memperlihatkan perkembangan yang signifikan?

Untuk membantu menjawab kedua pertanyaan dasar tersebut, maka saya mencoba menguraikan persoalan dasar. Apa alasan yang dapat memicu seseorang melakukan tindakan korupsi, terlepas dari apapun jabatan atau iman yang disandangnya.

Pendekatan yang akan saya gunakan untuk menjelaskan hal ini adalah pendekatan psikologi, terutama psiko analisis yang berbasis pada Freudian Theory yang digagas Sigmund Freud.    

Pokok Pikiran Psikoanalisis Sigmud Freud
Tokoh yang berjasa dalam meletakan landasan psikoanalis adalah Sigmund Freud. Psikoanalisis Freud lebih ditekankan pada soal pentingnya perkembangan masa kanak-kanak seseorang. Menurut Freud, masa kanak-kanak sangat memegang peran menentukan dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku individu manusia ketika dewasa kelak. Dengan kata lain, perkembangan pada masa kanak-kanak akan sangat menentukan kepribadian seseorang kelak menjadi dewasa.

Bagi Freud, kepribadian manusia dibangun atas tiga pilar utama yaitu ID, EGO dan SUPER EGO. Perkembangan ketiga pilar kepribadian manusia ini berlangsung dalam lima fase yaitu: FASE ORAL (usia 0-1 tahun), FASE ANAL (usiA 15 bulan sampai 2 tahun), FASE PHALIC (usia 3-6 tahun), FASE LATEN (usia 6-12 tahun) dan FASE GENITAL (usia 12 tahun).

Pada FASE ORAL, manusia menggunakan mulutnya untuk merasakan kenikmatan. Seorang bayi pada tahapan ini selalu memasukkan ke mulutnya setiap benda yang dipegangnya untuk merasakan kenikmatan.
 
Pada FASE ANAL, seorang anak akan memperoleh kenikmatan ketika ia mengeluarkan sesuatu dari anusnya. Anak menyukai melihat tumpukan kotorannya. Pada tahapan ini anak dapat berlama-lama dalam toilet. Pada tahapan ini, orang tua dapat memainkan perannya melalui apa yang disebut "toilet training". Orang tua dapat melakukan fungsi kontrol agar anak dapat menahan hasratnya untuk berlama-lama memperoleh kenikmatan di toilet.

FASE PHALIC adalah fase ketiga. Anak pada fase ini, cenderung memperoleh kenikmatan dengan mempermainkan kelaminnya.

Pada FASE LATEN, anak mulai melupakan tahapan memperoleh kenikmatan karena sudah memasuki usia sekolah. Anak mempunyai teman dan permainan baru.

Fase ke lima adalah GENITAL. Pada tahapan inilah perkembangan menuju kedewasaan mencapai puncaknya. Tahap-tahap perkembangan kepribadian tidak dengan sendirinya berjalan mulus untuk setiap anak. Bisa saja terjadi, seorang anak akan terhambat dalam perkembangan kepribadiannya. Usia bertambah tapi kepribadiannya masih dalam tahap perkembangan dini. Freud menyebutnya FIKSASI. Penyebabnya beragam, bisa karena orang tua, lingkungan sosial, atau konflik mental. Lantas, apa relevansinya dengan perilaku korupsi?    

Refleksi Bersama
Gambaran Freud di atas menunjukan bahwa, pada dasarnya manusia adalah makluk yang selalu gandrung dan suka mencari kenikmatan, sekaligus suka menghindari penderitaan. Korupsi adalah godaan kenikmatan terbesar selain perselingkuhan. Ini dapat dimengerti sebab semua tahapan perkembangan kepribadian dalam psikoanalisis Freud menunjukkan bahwa manusia selalu bermain-main dengan kenikmatan meski itu kotor sekalipun.

Perkembangan kepribadian yang gagal pada waktu masa kanak-kanak, akan menyebabkan orang lebih mudah tergoda melihat setumpuk uang meskipun uang itu milik orang lain. Ada korelasi antara tahapan perkembangan kepribadian anak dengan kondisi setelah dewasa. Bila pada tahap-tahap itu terjadi fiksasi atau hambatan perkembangan kepribadian, maka kepribadian itulah yang dibawanya sampai ia besar nanti. 

Sifat serakah, adalah sifat dari orang yang memang terhambat dalam perkembangan kepribadiannya. Terutama ketika seorang anak terhambat dalam tahap kepribadian anal. Seorang anak yang mengalami hambatan kepribadian pada fase anal, ketika besar akan mempertahankan kepribadian anal. Karakter orang ini ditandai dengan kerakusan untuk memiliki. Ia merasakan kenikmatan dalam pemilikan pada hal-hal yang material.

Fase anal ditandai oleh kesenangan anak melihat kotoran yang keluar dari anusnya. Kini, kotoran telah diganti benda lain. Benda itu dapat berwujud uang, mobil, rumah, saham, berlian, emas, intan, dan benda kenikmatan lainnya. Koruptor adalah anak kecil dalam tubuh orang dewasa. Badannya besar, jiwanya kerdil. Untuk menyembuhkannya, maka perlu dihilangkan hambatan itu.

Tunjukkanlah pada koruptor bahwa pada dasarnya dia belum dewasa. Kesenangannya mengumpulkan harta adalah simbol perilaku menyimpang akibat terhambat dalam perkembangan kepribadian di masa kanak-kanak. Dengan demikian, koruptor adalah orang yang tidak memiliki kepribadian yang dewasa.

Koruptor juga adalah orang yang tidak puas pada keadaan dirinya. Memiliki satu gunung emas, tetapi berhasrat punya gunung emas yang lain. Perilaku korupsi juga bisa muncul terkait dengan sistem yang memberi lubang terjadinya korupsi. Sistem pengendalian yang tidak rapi, yang memungkinkan seseorang bekerja asal-asalan dan sangat mudah timbul penyimpangan. Sistem pengawasan keuangan yang tidak ketat, mendorong orang yang gagal dalam perkembangan masa kanak-kanaknya, gampang memanipulasi angka, bebas berlaku curang, dan peluang korupsipun terbuka lebar.

Korupsi, meminjam syair Rendra, menyebabkan ada orang yang berlimpah, ada yang terkuras; ada yang jaya, ada yang terhina; ada yang mengikis, ada yang habis. Korupsi paralel dengan sikap serakah. Karenanya, penyelesain masalah korupsi ini menjadi sangat penting ditangani secara dini. Pendidikan dalam keluarga dan perenting education memainkan peran dalam rangka menumbuhkan sikap anti korupsi mulai dari rumah.

Pertanyaannya adalah? Apakah negara ini, paling tidak di level Pemda memiliki program yang realistik untuk mengembangkan pola asuh dalam keluarga yang bisa menotok titik saraf korupsi mulai dari rumah tangga? Jika belum, maka sudah saatnya kita memulainya. Mumpung kita masih diberi waktu, demikian syair lagu Ebiet G. Ade. Jika tidak, maka generasi kita hanya meninggalkan hutang yang menggunung dan gunung tanpa hutan  kepada anak-cucu negeri ini, dan ini berarti tanda-tanda kiamat sudah terlihat secara pasti. Masih ingatkah kisah peradaban Kreta, Babilonia, Sumeria bukan? Semoga kita bisa belajar dari mereka! (*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017oleh : Rohmah Sugiarti
12-Okt-2017, 06:52 WIB


 
  Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017 Hong Kong Cyclothon kembali di tahun ketiga, tepatnya pada hari Minggu, 8 Oktober kemarin. Diikuti sekitar 5.000 pesepeda dari seluruh pelosok dunia. Tujuh belas tim balap profesional akan berlaga di UCI Asia Tour Class 1.1 Road Race pertama di Hong
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Danau Toba Bukan Danau Tuba 14 Okt 2017 05:14 WIB


 

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia