KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRudiantara: 4,6 Juta UMKM Sudah Online oleh : Sesmon Toberius Butarbutar
15-Nov-2017, 21:01 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan berdasarkan data terdapat 4,6 juta UMKM dari target delapan juta UKM hingga 2019 telah masuk akses online.

"Kami punya target mengonlinekan delapan juta UMKM hingga tahun 2019, namun sekarang baru
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
BUDAYA

Kata "HORAS" Sapaan Batak Toba Penuh Makna (2)
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 06-Nov-2017, 10:03:26 WIB

KabarIndonesia - Samosir. Diakui, suara kuat dan keras itu sudah menjadi sifat kebiasaan sehari-hari dan ciri khas orang karena dulunya kondisi geografis yang berbukit-lembah serta hutan lebat di Tapanuli-Samosir. Ditambah lagi keras-sulitnya kehidupan di daerah yang kesuburan tanahnya relatif kurang (tahun 80-an pernah dijuluki peta kemiskinan). Kondisi ini berdampak pada banyaknya orang Batak yang migrasi ke luar (kota) untuk bekerja dan sekolah.

Suara keras dan logat bicara itu terutama dilakonkan orang Batak (Toba) yang lahir di kampung halaman (bona pasogit), sementara mereka yang lahir di perantauan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ada juga yang tidak berubah dalam gaya dan logat bicara yakni mereka yang hidup diperantauan masih menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa sehari-hari di rumah atau dalam pergaulan sesama.

Dengan demikian, suara keras/kuat bukan berarti marah atau membentak, tetapi lebih pada sifat terbuka, tegas, terus terang tanpa ada unsur dendam atau menyembunyikan sesuatu. Ketika sudah bertemu, berbincang akan terlihat rasa persaudaraan, keramahtamahan dan etika-sopan santun.

Horas, Salam dan Sapaan singkat penuh makna

Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI, bahwa kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang. Penggunaan kata sapaan itu sangat terikat pada adat-istiadat setempat, adat kesantunan, serta situasi dan kondisi percakapan. Itulah sebabnya, kaidah kebahasaan sering terkalahkan oleh adat kebiasaan yang berlaku di daerah tempat bahasa Indo­nesia tumbuh dan berkembang.

Wikipedia Indonesia mengatakan bahwa salam adalah cara bagi seseorang (juga binatang) untuk secara sengaja mengkomunikasikan kesadaran akan kehadiran orang lain, untuk menunjukkan perhatian, dan/atau untuk menegaskan atau menyarankan jenis hubungan atau status sosial antar individu atau kelompok orang yang berhubungan satu sama lain. Seperti juga cara komunikasi lain, salam juga sangat dipengaruhi budayadan situasi dan dapat berubah akibat status dan hubungan sosial. Salam dapat diekspresikan melalui ucapan dan gerakan, atau gabungan dari keduanya. Tetapi salam sering tidak selalu diikuti oleh percakapan (just say hello).

Bentuk ucapan salam atau sapaan manusia sangat beragam. Di berbagai suku bangsa, biasanya ungkapan salam atau sapaan selalu dikaitkan atau tergantung dengan waktu, situasi kondisi termasuk dari sisi agama, juga orang yang terlibat, status sosial dan hubungan pribadi.

Buat masyarakat Batak Toba, ungkapan atau frase kata HORAS adalah ucapan salam atau sapaan yang berlaku umum tanpa batasan waktu, status sosial, agama, suku atau hubungan pribadi, malah saat ini kata 'Horas' sudah menjadi salam sapaan internasional. Karenanyalah jika sesama orang Batak bertemu, kapanpun, dimanapun, dalam situasi apapun, kata pertama yang diucapkan adalah “horas“.

Sekilas, orang hanya tahu bahwa "HORAS“ itu adalah sapaan atau salam saat bertemu saja. Namun tidaklah demikian sebenarnya. Kata HORAS adalah ucapan penuh makna, suatu terminologi yang di dalamnya termuat falsafah hidup yang harus dibawa orang Batak kemanapun ia pergi. Saat bertemu, berpisah, situasi suka duka, waktu pagi-siang-sore-malam, buat orang Batak selalu menyapa, mengawali ujaran deng kata "horas" sebagai sebuah ungkapan yang tercermin dari hati menjadi 'inner beauty'.

Meningkatnya ilmu pengetahuan dan berkembangnya teknologi informasi-komunikasi dikaitkan dengan realitas hubungan adat-istiadat-kekerabatan, maka para pemerhati bahasa Batak berusaha melakukan kajian atas kata Horas. Kajian itu menyebut bahwa kata 'horas' itu adalah kependekan (gabungan dari 5 huruf) sehingga didalamnya terkandung cita-cita, harapan, doa dan gambaran hubungan sebagai berikut:

1. Kata HORAS diartikan sebagai Hubungan Organik Refleksi Antar Sesama. Artinya saat kita mengucapkan "Horas" maka akan tercipta hubungan organik sebagai refleksi antara sesama yang bertemu-berpisah dan sebagainya.

Dalam pembicaraan sehari-hari ketika sesama orang Batak bertemu, mereka akan mengucapkan salam 'horas' dan akan dibalas juga dengan kata 'horas' dengan ekspresi gembira. Dapat dilihat adanya hubungan "erat" diantara keduanya yang berjumpa atau berpisah.

2. Kata "HORAS“ adalah suatu singkatan dari:
*H*. -> Holong masihaholongan = kasih mengasihi;
*O*. -> On do sada dalan nadumenggan = inilah jalan yang terbaik.
*R*. -> Rap tu dolok, rap tu toruan = seia sekata.
*A*. -> Asa Taruli pasu-pasu = supaya mendapat berkat.
*S*. -> Saleleng di hangoluan = selama kita hidup.
Jadi kata “HORAS“ itu adalah suatu cita-cita atau harapan yang mengambarkan bahwa setiap orang harus hidup saling mengasihi. Inilah jalan yang terbaik dan diwujudkan dengan seia sekata supaya kita mendapat berkat selama hidup kita, dan harapan selamat-sukses-sehat-sejahtera.

3. Kata “Horas” adalah wujud rasa saling menghormati.
Ungkapan kata horas bagi suku Batak (Toba) merupakan suatu keharusan sebagai rasa hormat/menghargai dan ungkapan syukur, menyapa dan berkomunikasi menjadi cair setelah menyampaikan ungkapan kata ini. Adalah semacam keharusan bagi orang Batak untuk mengucapkan salam atau menyapa dengan kata Horas, sebaliknya pihak kedua yang terlibat juga harus membalasnya dengan kata horas, sehingga sungguh terlihat hubungan erat diantara mereka.

Penggunaan kata horas sebagai salam dan ungkapan rasa hormat adalah wujud dari perilaku yang tidak lekang dari masyarakat Batak, yakni perilaku 'anak ni raja' (semua orang Batak adalah raja dan atau anak raja). Dalam hal ini "raja" tidak dalam pemahaman kerajaan (zaman pra kemerdekaan) tetapi lebih memberi arti "terhormat" dalam berperilaku, bertindak, berkata. Karena itu adakalanya kata HORAS diartikan HOlan RAja Sude (semuanya raja) yang harus saling menghormati.
Umumnya apabila dicermati, kelima sub suku Batak memiliki cara dan ungkapan kata yang berbeda setiap sub sukunya namun memiliki makna yang kurang lebih adalah sama.
Suku Batak Toba menyebut: ”Horas Jala Gabe ma Dihita Saluhutna”
Suku Batak Pakpak berkata : ”Njuah-juah Mo Banta Karina”
Suku Batak Simalungun mengucapkan :”Horas Banta Haganupan, salam Habonaran do Bona”
Suku Batak Karo mengatakan : ”Mejuah-juah Kita Krina”
Suku Batak Mandailing dan Angkola menyampaikan :”Horas tondi mandingin pir ma tondi matogu, sayur matua bulung”
Seluruhnya salam khas itu bermakna sama dengan kata Horas yang berarti ”hormat dan kiranya kita semua dalam keadaan selamat-sejahtera.

4. Kata Horas diucapkan tiga kali.

Ungkapan kata HORAS sudah sangat kental diketahui dan dijadikan ucapan salam dan sapaan masyarakat, baik dikalangan orang Batak maupun etnis lain di Sumatera Utara. Para pimpinan daerah selalu membuka pertemuan rapat dengan menyampaikan salam dalam bahasa 8 etnis di Sumut termasuk dengan kata horas. Bahkan akhir-akhir ini akibat inkulturasi yang terjadi, kata Horas sudah meluas di tanah air hingga manca negara.

Sering ditemukan dalam sebuah pertemuan, perjumpaan bahkan dalam acara di televisi, dikatakan HORAS, HORAS BAH, yang secara refleks atau 'komedi' dijawab dengan kata Horas atau Horas Bah.
Penyebutan kata Horas Bah oleh pembicara tidak salah tetapi terasa tidak pas di telinga, sebab sapaan-salam yang benar adalah kata Horas saja dan harus diucapkan tiga kali menjadi Horas, horas, horas ma di hita sude (horas buat kita semua)

Menurut para tetua, diucapkannya tiga kali kata horas mengandung makna harapan dan cita-cita memperoleh kehidupan (mata pencaharian). Dalam bahasa Batak angka tiga (tolu) itu sempurna, misalnya Adat Dalihan Natolu (tungku nan tiga), debata na tolu, banua na tolu. Makna tiga kali penyebutan supaya memperoleh sumber hidup/kehidupan (tubu ngolungolu).

Mungkin banyak yang mengira kata horas ini adalah kata-kata yang biasa saja, padahal kata ( Horas ) ini sudah menyebar luas ditanah air bahkan di manca negara. Bahkan sering Kita lihat di acara tv jika sudah mendengar dengan namanya kota medan, pemain bahkan MC sering mengungkapkan kata “horas”.

Akhir kata, mudah-mudahan dengan tulisan ini generasi muda Indonesia semakin mencintai budaya, bahasa, adat istiadat yang berbeda dan beragam dirajut menjadi sebuah modal dalam harmoni kehidupan.(penulis: dari berbagai sumber).(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Inspirasi 60 Tahun Astra Makassar Semarak, Target Revitalisasi 600 Halte Tercapai Senior Journalist Rappler Indonesia Uni Lubis (kanan) berinteraksi dengan 400 peserta dalam bedah buku Astra on Becoming Pride of the Nation bersama Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk Aloysius Budi Santoso (tengah), dipandu oleh Zilvia Iskandar
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia