KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRudiantara: 4,6 Juta UMKM Sudah Online oleh : Sesmon Toberius Butarbutar
15-Nov-2017, 21:01 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan berdasarkan data terdapat 4,6 juta UMKM dari target delapan juta UKM hingga 2019 telah masuk akses online.

"Kami punya target mengonlinekan delapan juta UMKM hingga tahun 2019, namun sekarang baru
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
BUDAYA

Kata "HORAS" Sapaan Batak Toba Penuh Makna (1)
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 06-Nov-2017, 09:54:09 WIB

KabarIndonesia - Samosir, Sejak lama masyarakat dunia mengakui jika negeri kita Indonesia, zamrud khatulistiwa adalah negara yang memiliki kekayaan tiada tara. Kekayaan itu terlihat dari sumber daya manusia (penduduk) yang cukup besar, pulau-pulau yang banyak, suku -adat budaya dan bahasa yang beragam dan potensi sumberdaya alam yang melimpah. Pantas dan sangat wajar bila suatu saat negeri ini menjadi pusat perhatian dan aktivitas dunia.

Data yang dirilis Pemerintah saat berlangsungnya konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung di New York, Amerika Serikat tahun lalu bahwa ada pertambahan pulau di Indonesia. Dari data yang dirilis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia kini terdiri dari 17.504 pulau, di antaranya 16.056 pulau yang sudah diberi nama dan terverifikasi.

Ditilik dari sisi kependudukan, menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk di Indonesia tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa. Penghitungan jumah penduduk dilakukan setiap 10 tahun sekali, artinya Badan Pusat Statistik akan melakukan sensus penduduk pada tahun 2020 mendatang. Jika kita mengacu pada data yang dikeluarkan bank dunia, yaitu laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,2%/tahun maka jumlah penduduk Indonesia tahun 2017 adalah 256.603.197 juta jiwa. Tentu ini belum menjadi data valid karena masih hasil hitung-hitungan kasar. Dapat dibayangkan jumlah penduduk di Indonesia pada tahun 2030 bisa mencapai 300 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk sebanyak itu maka kekayaan negeri ini makin besar pula.

Informasi yang diperoleh dari Wikipedia, menurut sensus BPS tahun 2010, terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia, tepatnya 1.340 suku bangsa. Suku Jawa adalah kelompok suku terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 41% dari total populasi. Orang Jawa kebanyakan berkumpul di pulau Jawa, akan tetapi jutaan jiwa telah bertransmigrasi dan tersebar ke berbagai pulau di Nusantara bahkan ada yang bermigrasi ke luar negeri atau belahan dunia yang lain.

Selain suku Jawa, suku Sunda, suku Batak dan suku Madura adalah kelompok terbesar berikutnya di Indonesia, yang populasi dan konsentrasi penyebarannya di beberapa provinsi. Suku Jawa diperkirakan 95,240,200 jiwa terkonsentrasi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Lampung. Suku Sunda 36,715,500 di Jawa Barat, Suku Batak 8,585,800 di Sumatera Utara, Suku Madura 7,230,300 di Pulau Madura, Jawa Timur, Suku Betawi sejumlah 6,828,800 jiwa di Jakarta.

Banyaknya pulau yang didiami masyarakat dengan keberagaman yang terdapat di Indonesia sebagaimana disebut di atas menunjukkan betapa besarnya berkat dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain suku yang beragam, agama yang berbeda, bahasa yang berbeda, ras dan budaya yang berbeda, ada hal yang harus sangat dipahami dan diketahui oleh semua rakyat Indonesia sebagai sesuatu yang bukan untuk dbeda-bedakan apalagi diperdebatkan. Malahan keberagaman itu merupakan notasi nada yang diaransir menjadi lagu indah dalam harmoni kehidupan.

Seiring dengan banyaknya suku dan sub etnis bangsa Indonesia sebagaimana disebutkan di atas, maka bahasa sebagai alat komunikasi intern masing-masing suku juga cukup banyak. Dari 1.340 suku bangsa maka bahasanya pun pasti lebih banyak lagi, karena adakalanya satu suku bangsa masih memiliki bahasa sub etnis dan bahasa menurut status/strata budaya. Dalam suku Batak misalnya, dengan 5 sub etnis memiliki bahasa masing-masing, suku Nias yang terdiri dari beberapa sub etnis juga dengan bahasa yang berbeda. Bahkan yang paling kelihatan berbeda ada di bahasa Jawa, Batak yang dikenal dengan bahasa 'halus' dan bahasa umum.

Tegur sapa atau salam di Indonesia
Sebuah adagium yang menyatakan 'bahasa menunjukkan bangsa' merupakan pernyataan bahwa setiap suku bangsa memiliki adat, budaya yang berbeda yang tentu sekali ditunjukkan (salah satu) melalui bahasanya. Bahasa merupakan perwujudan budaya yang dinyatakan dan diungkapkan secara vocal/oral (ucapan kata). Ucapan kata tentu lazim dipahami sebagai ungkapan sehari-hari dengan kata teguran atau kata sapaan.

Demikianlah masyarakat Indonesia dengan sapaan dikenal sebagai warga yang ramah tamah, miliki sopan santun, etika berbahasa dengan sapaan dalam komunikasi sehari-hari. Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga. Mengenai sapaan atau kata pembuka dan penutup dalam setiap perjumpaan di Indonesia adalah kata yang lazim diucapkan masyarakat sebagai ungkapan kata menurut keyakinan atau adat budaya/suku.

Beberapa contoh kata yang dapat digunakan sebagai kata sapaan atau salam, antara lain, Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh (Islam), Syalom/shalom (Kristen), Sampurasun (Jawa), Adil Ka'Talino-Bacuramin Ka'Saruga, Basengat Ka'Jubata, Horas Tondi Madingin, Horas Pir Tondi Matogu (Batak Toba), Mejuah juah kita kerina (batak Karo), Ja'ahowu (Nias), Om Swastiastu (Bali), Namo Budaya (Hindu Bali), Ahoii (Melayu), dan berbagai kata sapaan lainnya sesuai dengan jumlah suku-bahasa di Indonesia tercinta.

Mengenal suku Batak melalui suara/ucapan/kata
Sebuah fakta yang jarang dipahami oleh masyarakat pada umumnya, bahwa setiap suku memiliki watak, karakter, pola pikir, pola adat budaya dan sistem kekerabatan yang berbeda. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat suku Batak yang terdiri dari 5 sub suku yakni Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Pakpak (Dairi), Batak Karo dan Batak Angkola/Mandailing. Dua sub suku yang disebut terakhir pada waktu belakangan ini 'menolak' disebut suku Batak.
Menurut catatan sejarah suku bangsa, orang Batak memiliki tanah leluhur di Sianjur Mulamula kabupaten Samosir. Keturunan Si Raja Batak ini dulunya bermukim di sebuah kampung dan seiring dengan perkembangan zaman kemudian mendiami kawasan Danau Toba atau Tapanuli di Sumatera Utara. Suku Batak berkembang menjadi salah satu suku terbesar keempat di Indonesia yang menyebar hingga kota-kota di Indonesia dan di luar negeri.

Pada umumnya orang Batak mengaku sebagai bangsa (bangso) dengan alasan yang tidak sekedar dibuat-buat malah dapat dibuktikan dengan syarat umum sebagai bangsa. Suku bangsa Batak memiliki tanah leluhur, nenek moyang dan garis keturunan yang jelas tercatat, sistem kekerabatan, adat istiadat dan hukum, bahasa dan aksara yang jelas, warisan budaya-sejarah yang masih tersimpan (sebagian di museum negeri Belanda). Suatu hal yang nyata di zaman kemerdekaan tercipta lagu "O Tano Batak' (OTanah Batak) yang kemudian disebut sebagai lagu kebangsaan suku Batak dan biasanya kerap dinyanyikan bersama dalam sebuah acara pesta atau rapat besar.

Orang-orang Batak memang mudah dikenali dari gaya bicara/logat bahasanya, tidak jarang seseorang yang bersuara keras (kuat) dan bicara 'vokal' langsung dikategorikan sebagai orang Batak. Apalagi saat memperkenalkan diri menyebut marga dan berasal dari Medan (ibukota provinsi Sumatera Utara) langsung disapa dengan kata "Horas bah" ditambah lagi mengucapkan kata dalam bahasa Indonesia bergaya/logat khas suara kuat, pengucapan vokal yang lebar. Sesungguhnya akan sangat kelihatan berbeda seorang Batak dengan yang bukan orang Batak saat menggunakan bahasa Batak (Toba), sangat jelas jika meniru atau dibuat-buat.

Banyak orang berprasangka jika orang Batak itu berkarakter dan watak yang keras hanya karena suara keras dan bicara kuat padahal sesungguhnya ada kelembutan dan keramahtamahan. Diakui, suara kuat dan keras itu sudah menjadi sifat kebiasaan sehari-hari dan ciri khas orang karena dulunya kondisi geografis yang berbukit-lembah serta hutan lebat di Tapanuli-Samosir.(bersambung)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Inspirasi 60 Tahun Astra Makassar Semarak, Target Revitalisasi 600 Halte Tercapai Senior Journalist Rappler Indonesia Uni Lubis (kanan) berinteraksi dengan 400 peserta dalam bedah buku Astra on Becoming Pride of the Nation bersama Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk Aloysius Budi Santoso (tengah), dipandu oleh Zilvia Iskandar
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia