KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilMelani Butarbutar: Tekad Putra Samosir, Melayani Aspirasi Rakyat Sepenuh Hati oleh : Wahyu Ari Wicaksono
05-Nov-2018, 09:11 WIB


 
 
KabarIndonesia - Mengawali karir sebagai CPNS tahun 1976 di kantor Camat Simanindo Ambarita (Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) dengan pangkat/golongan Juru Muda Tingkat I (I/b), pada Februari tahun 2017 lalu, Danny Melani Michler Hotpantolo Butarbutar atau biasa disebut Melani Butarbutar
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sepertiga Malam 05 Nov 2018 15:57 WIB

Duhai Kau yang Sedang Diuji 21 Okt 2018 11:53 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Menjadi Wartawan Pilihan Hidupku 09 Nov 2018 15:39 WIB


 
 
BUDAYA

Kabupaten Tobasa Darurat Kekerasan Seksual dan Krisis Moralitas?
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 23-Feb-2018, 12:24:26 WIB

KabarIndonesia - Jakarta, Kesimpulan setelah tiga hari kerja Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS ANAK) sebagai lembaga independen yang memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia, melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke kabupaten Toba Samosir (TOBASA) sangatlah diluar dugaan dan akal sehat. Tobasa sebagai wilayah religius dan menjunjung tinggi nilai adat (dalihan natolu) saat ini memegang predikat sebagai Kampung (huta) darurat kekerasan seksual terhadap anak dan krisis moralitas. 

Demikian Nelson Siregar, seorang pegiat sosial dan mantan pimpinan di salah satu gereja Kristen terbesar di Indonesia, yang dituliskannya dan dibagi ke publik di akun fb miliknya, Kamis (22/2). Lebih lanjut disampaikannya, bahwa sesungguhnya TOBASA tidaklah pantas mempunyai predikat krisis moralitas dan darurat kekerasan seksual terhadap anak, namun ini sudah fakta atau nyata terjadi dan tidak bisa terbantahkan.


Menurut laporan Polres Tobasa, sepanjang Januari 2018 telah ditemukan fakta (berdasarkan laporan masyarakat) ada 6 kasus kekerasan seksual dalam bentuk hubungan seksual sedarah (incest) yang dilakukan oleh orang terdekat korban.
Angka ini dikuatirkan akan terus meningkat jika dibanding dengan 29 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi sepanjang tahun 2017.

Kasus kejahatan seksual teranyar yang dilakukan oleh ayah kandung dan paman korban di salah satu desa di kecamatan Silaen, Tobasa Sumatera Utara sangat mencoreng nilai-nilai agama dan adat di tanah Batak. Tim Komnas Perlindungan Anak yang dipimpin Arist Merdeka Sirait berkesempatan berkunjung ke desa Silaen untuk bertemu dengan korban Putri (14) bukanlah nama sebenarnya dan ibu korban. Korban menceritakan pengalaman pahitnya itu, bahwa sejak korban usia 12 tahun telah diperlakukan salah secara seksual dengan penuh ancaman oleh ayah kandung dan paman kandung korban secara berulang-ulang selama dua tahun hingga korban saat ini mengandung 4 bulan. Korban bercerita, setiap kali ayah dan paman korban melakukan kejahatan seksual kepada dirinya, diawali dengan menenggak minuman keras tradisional "tuak" lebih dahulu dari warung tuak langganan ayah korban. Kejahatan seksual ini selalu dilakukan ayah dan pamannya pada saat ibunya dan adik-adiknya terlelap tidur pada malam hari. Bahkan pamannya pernah masuk ke kamarnya dengan cara memanjat melalui internit dan memaksa korban untuk melayani kebejatan sang paman.

Peristiwa yang sama dan memilukan juga dialami dua anak remaja kakak beradik siswi SMP di Balige, Tobasa, sebut saja Bunga (13) dan Melati (14) keduanya bukan nama sebenarnya. Kakak beradik ini mengalami kejahatan seksual berulang-ulang dalam bentuk incest yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri dengan penuh ancaman. Mereka diancam tidak akan disekolahkan jika tidak mau melayani perilaku bejat ayah kandungnya.

"Nasib malang bagi Bunga (13), saat melaporkan peristiwa kejahatan seksual yang dilakukan ayahnya ini kepada guru agamanya, dengan harapan mendapat perlindungan, namun guru agamanya justru memanfaatkan situasi buruk itu dan melakukan kejahatan seksual terhadap korban dengan penuh ancaman. Bahkan oleh kepala sekolah, kedua korban dikeluarkan dari sekolah dengan cara memberhentikannya," demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak dalam rilisnya dari Jakarta kepada media di Sumatera Utara, Selasa 20/02/18.

Untuk memastikan kebenaran atas peristiwa ini, Tim Komnas Perlindungan Anak dan Bupati Tobasa Darwin Siagian bersama jajarannya berkunjung ke Polres Tobasa di Porsea, dan berkesempatan bertemu dan berdialog dengan ayah dan paman korban.

Pada kesempatan itu,  dihadapan Wakapolres Tobasa dan Kasat Reskrim serta para penyidik dari Unit PPA Polres Tobasa diperoleh pengakuan dan kronologis peristiwa kejahatan seksual yang mengejutkan dan biadab yang dilakukan pelaku JS (38) ayah kandung korban dan N (32) selaku paman korban.

Atas dasar kejahatan seksual yang sulit diterima akal sehat manusia itulah Komnas Perlindungan Anak dan atas dorongan masyarakat Tobasa meminta agar Polres Tobasa menerapkan Ketentuan UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penerapan Perpu No. 01 Tahun 2016 junto UU RI No. 35 Tahun tentang Perlindungan Anak. Dengan demikian,  Jaksa Penuntut umum (JPU) dapat menetapkan tuntutannya kepada predator/pelaku kejahatan seksual sesuai dengan harapan masyarakat minimal dengan ancaman pidana 10 tahun dan maksimal 20 tahun. Bahkan dapat dikenakan hukuman tambahan fisik seumur hidup dan hukuman "Kastrasi" yakni kebiri lewat suntik kimia, apalagi kejahatan ini dilakukan oleh orangtua kandung dan paman dari korban, dan oleh hukum dapat ditambahkan sepertiga dari pidana pokoknya...

Dari 2 kasus kejahatan seksual yang dilakukan orangtua kandung, paman dan kerabat terdekat keluarga, yang diungkap dalam peristiwa ini serta meningkatnya jumlah angka kejahatan seksual terhadap anak yang terungkap dan dilaporkan kepada Polisi di Tobasa dan Komnas Perlindungan Anak,  tidaklah berlebihan jika Tobasa saat ini dalam kondisi "Darurat Kekerasan Seksual dan Krisis Moralitas," sebut Nelson Siregar.

Oleh sebab itulah, dari hasil temuan data dan fakta kekerasan seksual yang diperoleh dari Kunjungan Kerja Komnas Perlindungan Anak selama di Kabupaten Tobasa bersama Bupati Tobasa, Komnas Perlindungan Anak mempresentasikan temuannya sebagai narasumber utama dalam sebuah diskusi panel warga Balige yang diselenggarakan oleh Partukoan S3 ( Saurdot, Satahi jala Saroha) yang diketuai oleh bapak Ir. Parlin Sianipar dan diorganisir oleh dr.Tota Manurung serta partisipasi pemikiran dari J. Siahaan, SH dan S.Pardede.

Dikabarkan, dari diskusi panel itu, diperoleh kesimpulan bahwa situai tanah Batak khususnya Tobasa telah terjadi degradasi moralitas, akhlak dan adat Batak di Tobasa. Disepakati, dengan dukungan dari Bupati Tobasa dan jajaran pemerintahannya, dalam rangka memutus mata rantai kekerasan  seksual terhadap Anak serta merajut kembali nilai-nilai adat, moralitas dan Agama di Tobasa yang sudah mulai terancam hancur, perlu segera membangun:

1. Gerakan Perlindungan Anak Sahuta ( sekampung), dengan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dan solidaritas yakni "Sisada Anak Sisada Boru, Marsijaga anakna diganup Huta".

2. Menyediakan Rumah Aman bagi korban kekerasan seksual di Tobasa, serta 

3. Membuat Nota Kesepahamam (MoU) dengan Polres Tobasa agar semua kasus-kasus kejahatan seksual ditangani dengan cepat dan berkeadilan bagi korban.

4. Tidak melayani kata atau upaya damai terhadap kejahatan seksual dalam bentuk apapun.

5. Meningkatkan peran institusi lintas agama khususnya peran Gereja agar mampu menyuarakan "suara kenabian" untuk kasus-kasus kejahatan seksual, kejahatan kemanusiaan serta kejahatan moralitas.

Dalam kesempatan itu Komnas Perlindungan Anak memberikan dukungan dan apreasiasi kepada Bupati Tobasa yang menyatakan komitmennya terhadap hasil dari diskusi panel yang disiapkan Forum Masyarakat Tobasa dan S3, serta kepada Polres Tobasa yang dengan sigap dan cepat menangkanp para predator kejahatan seksual terhadap anak di Tobasa, Apresiasi ini disampaikan Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait kepada awak media usai menghadiri Diskusi panel Forum Masyarakat S3 di Balige.

Sementara itu menjawab komentar Ganda M A Tambunan dan Sahat M Simanullang di laman fbnya, Nelson Siregar menjelaskan bahwa peristiwa menyakitkan, memalukan dan biadab seperti ini terjadi karena berbagai kealpaan pembinaan dan pemberdayaan."Partangiangan (doa bersama) tak sering dilakukan, tanpa dialog, diskusi, bimbingan pastoral tak kritis, khotbah kurang menyentuh realitas sosial, konsep kerja makin terpusat pada kaum perempuan, prediksi tentang pengaruh roh zaman tak antisipatif. Seremoni itu makin menjauhkan kita dari budaya Batak yg sudah makin amburadul; uang, nafsu dan kesemrautan makin berkuasa. Saya kira tahun-tahun mendatang makin tak menjawab masalah sosial", sebutnya. (*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Astra Dukung Ekspedisi Tembus Tol Trans Jawaoleh : Rohmah S
12-Nov-2018, 10:18 WIB


 
  Astra Dukung Ekspedisi Tembus Tol Trans Jawa Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI Rini Soemarno (kedua kiri) didampingi Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security PT Astra International Tbk Pongki Pamungkas (kedua kanan) saat flag off Ekspedisi Tembus Tol Trans Jawa di Surabaya (12/11).
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Antara Rocky Gerung dan Jokowi 05 Nov 2018 15:56 WIB

Berhutang Oksigen 21 Okt 2018 11:51 WIB

 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia