KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalHumas Indonesia Butuh Dewan Kehumasan oleh : Rohmah Sugiarti
10-Des-2017, 23:29 WIB


 
 
KabarIndonesia – Profesi Hubungan Masyarakat (Humas) atau Public Relations (PR) di Indonesia butuh sebuah lembaga independen yang bertugas membina pertumbuhan dan perkembangan kehumasan nasional. Kebutuhan ini semakin relevan dan mendesak dengan dibukanya keran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang membuka akses
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Jatuh Cinta Kepada Telaga 26 Nov 2017 11:31 WIB

Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
BUDAYA

Hasapi dan Sarune Batak
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 05-Des-2017, 02:46:00 WIB

KabarIndonesia - Samosir, Hasapi (Kecapi) dan Sarune (Serunai) adalah alat musik tradisional Batak yang lazim dipergunakan bersama alat musik lain dalam assambel "gondang bolon" (gendang besar) dan "gondang hasapi", terutama untuk memeriahkan sebuah pesta. Namun demikian adakalanya kedua alat musik ini dipakai sendiri-sendiri atau digabung dengan alat musik lainnya.

Masyarakat Batak sudah sejak lama mengenal seni musik, jauh sebelum mengenal alat musik modern seperti sekarang ini. Ini terbukti dengan banyaknya alat musik yang dipakai seperti, taganing (5 buah gendang kayu dan kulit hewan), ogung (4 buah gong tembaga), odap (3 buah gendang kecil), hasapi, sarune bolon, sarune etek, seruling, garantung (kulintang kayu), odap, mengmung, sagasaga, tulila, talatoit dan sebagainya.

Hasapi dan Sarune adalah dua alat musik yang terkenal dan sering digunakan, seakan tidak lekang dari kehidupan orang Batak. Hal ini dikarenakan bunyinya yang unik, melenting dan menggetarkan.

Hasapi (Kecapi Batak)
Hasapi adalah salah alat musik Batak Toba yang dikelompokkan ke alat musik dawai atau senar, dalam bahasa Indonesia sering disebut Kecapi batak. Teknik memainkan hasapi dengan menggunakan teknik mamiltik atau tokkel (dipetik atau diketuk). Hasapi tersebut memiliki 2 tali senar sehingga masuk dalam kategori kordofon.

Alat musik hasapi merupakan alat musik yang melodis dan ritmis karena hasapi sendiri tidak menggunakan tangga nada. Jadi hasapi digunakan sebagai musik pengiring dalam sebuah asambel acara musik/ gondang atau pesta.

Hasapi terbuat dari kayu juhar yang tumbuh di sekitar danau toba, bisa juga dengan menggunakan batang kayu pohon nangka. Menurut pembuat hasapi, pohon nangka mudah dibentuk, lebih tahan lama dan awet. Batang kayu nangka tersebut dikeruk sebagai tempat resonansi suara yang dihasilkan, lalu ditutup dengan kayu yang tipis, kadang juga diberi ukiran untuk memberi hiasan agar lebih kelihatan menarik.

Hal yang tidak kalah menarik dalam pembuatan Hasapi ialah pada bagian ujung hasapi tersebut terdapat tempat untuk menyetel senar sebanyak dua buah senar (gitar) yang berbeda. Hasapi sendiri terdapat dua jenis yaitu hasapi ende (lagu) yang berfungsi sebagai irama melodi, dan hasapi doal yang berfungsi sebagai irama rhythm.

Pembuat hasapi sudah sedikit ditemukan, karena biasanya pengrajin hasapi adalah orang yang juga pandai memainkan alat musik tersebut dan biasanya pengrajinnya adalah orang-orang tua dan kemudian diwariskan kepada keturunannya semasa masih tinggal di kampung. Begitu juga, tidak banyak pula orang yang dapat menggunakan hasapi tersebut seperti layaknya gitar.

Sekarang Hasapi banyak ditemukan pada toko souvenir di parapat dan pulau samosir dan biasanya dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke danau toba. Namun harus diperhatikan dan ditanyakan apakah alat musik ini untuk digunakan (bermain musik) atau untuk pajangan/souvenir saja. Hasapi souvenir biasanya dijual seharga 300 - 500 ribu rupiah, sementara untuk hasapi musik diperoleh seharga 500 ribu ke atas.

Walaupun sekarang ini sudah banyak dipakai alat musik modern misalnya keyboard dan gitar listrik yang dapat memproduksi bunyi menyerupai bunyi hasapi, tetapi itu tidak langsung menghilangkan eksistensi hasapi sendiri. Hasapi sudah menjadi ikon yang melekat pada seni dan budaya Batak sebagai warisan leluhur yang masih dilestarikan sampai saat ini. Apalagi penggunaan alat musik hasapi sendiri dapat dipadukan secara bersama-sama dengan alat musik modern, dengan bunyi petikan yang khas.


Sarune EtekSarune (shawn) adalah juga salah satu alat musik tradisional Batak yang lazim digunakan bersama-sama dengan instrumen lainnya pada asambel gondang bolon dan gondang hasapi. Sejak lama orang Batak telah menggunakan alat musik serunai, hingga disebut Sarune Batak.

Ada dua jenis sarune yang dipakai masyarakat Batak yaitu Sarune Etek (serunai kecil) adalah instrumen pembawa melodi yang memiliki reed tunggal (single reed). Sarune bolon (serunai besar) adalah instrumen pembawa melodi yang memiliki reed ganda (double reed).

Sarune Batak sendiri tergolong pada aerophone (alat musik tiup/alat musik yang menghasilkan bunyi akibat getaran udara). Masyarakat adat Batak Toba menggunakan Sarune dalam acara-acara khusus, seperti upacara adat, pernikahan, kemalangan (kematian), dll.

Alat musik ini termasuk dalam kelompok aerophone yang memiliki lima lobang nada (empat di bagian atas, satu di bagian bawah), yang dimainkan dengan cara mangombus marsiulak hosa (circular breathing).

Teknik bermain Sarune Batak (sarune etek, sarune bolon) adalah dengan menggunakan istilah marsiulak hosa (circular breathing), yang artinya seorang pemain sarune dapat melakukan tiupan tanpa putus-putus dengan mengatur pernapasan, sambil menghirup udara kembali lewat hidung sembari meniup sarune. Teknik ini dikenal hampir pada semua etnis Batak.

Demikian juga dengan Sarune Etek dimainkan dengan cara ditiup dengan menggunakan teknik marsiulak hosa, mandila-dila, manghapit, piltik dila, piltik jari, menutup dan membuka lubang angar-angar (bunyi besar)

Secara umum, Sarune Batak terbuat dari kayu dan terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: pangkal ujung sebagai resonator; batangnya, yang sekaligus juga sebagai tempat lobang nada. Pangkal ujung penghasil bunyi dari lidah yang terbuat dari daun kelapa hijau yang dilipat sedemikian rupa yang diletakkan dalam sebuah pipa kecil dari bambu atau logam, dan ditempelkan ke bagian badan sarune tersebut. Sarune bolon panjangnya sekitar 1 meter, sedang sarune etek hanya sekitar 40 cm, sehingga produksi bunyinya pun berbeda.

Sama halnya dengan Hasapi, sekarang ini sangat sulit menemukan orang yang mampu membuat Sarune. Dulunya para orangtua mampu membuat sarune sekaligus meniupnya. Salah satu kesulitan yang dihadapi adalah teknik dan cara meniupnya yang harus 'marsiulak hosa' (circular breathing), harus memiliki nafas panjang. Peniup sarune sangat melarang seseorang membawa jeruk saat dia bermain, karena dapat membuat air ludah masuk ke hidung.(Diedit dari berbagai sumber).(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kemeriahan Konser Akhir Tahun JOOX Festival Hura Ceria 2017oleh : Rohmah Sugiarti
10-Des-2017, 23:02 WIB


 
  Kemeriahan Konser Akhir Tahun JOOX Festival Hura Ceria 2017 Kota Bandung sempat diguyur hujan deras sejak siang, rupanya animo kaum muda dan pecinta musik tidak ikut surut sesudah hujan. Sesuai jadwal, tepat pukul 16.00, panggung “JOOX Live Festival Hura Ceria”, yang diadakan pada Sabtu, 9 Desember 2017 di Lapangan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Mengenang Hari Juang Kartika 13 Des 2017 11:39 WIB

 

 

 
Peta Pilgub Jateng 2018 12 Des 2017 12:44 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia