KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Tepat 45 tahun lalu, Argopandoyo Tri Hanggono dilahirkan di Kota Jakarta, sebagai anak ketiga dari pasangan W. Sudaryo dan Martha Beetje.

Ayah dua anak ini memiliki ketertarikan pada dunia jurnalistik sejak mengikuti kegiatan penerbitan Warta Yohanes
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

Busana Koteka di Pegunungan Tengah Papua

 
BUDAYA

Busana Koteka di Pegunungan Tengah Papua
Oleh : Emanuel Bamulki | 22-Mei-2017, 22:01:45 WIB

KabarIndonesia - Koteka adalah busana daerah orang pegunungan tengah Papua yang dipakai untuk menutupi alat vital. Koteka sendiri sering digunakan oleh kaum lelaki. Koteka terbuat dari labu hutan yang dilobangi bagian dalamnya dengan mengeluarkan isi labu hutan. tinggal hanya sisi kulitnya saja yang dipergunakan.

Kemudian kulit luar labu hutan tersebut dipanaskan di bara api guna memperkuat dan mengeraskan kulit labu hutan tersebut. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar koteka tidak cepat rusak dan juga agar koteka menjadi nyaman pada saat digunakan.

Pada zaman nenek moyang dulu, labu hutan yang dijadikan koteka tidaklah sulit untuk didapatkan, sebab labu hutan tersebut di kembangbiakkan di area belakang rumah hampir tiap orang yang mendiami pegunungan tengah Papua. Namun kini seiring berjalannya waktu, labu hutan yang sering dipakai  sebagai busana koteka sudah sangat jarang ditemukan. Hal ini mungkin karena kurangnya kesadaran dari orang-orang asli pegunungan tengah Papua akan pentingnya budaya Lokal sehingga labu hutan tersebut tidak dikembangbiakkan. Selain itu, seiring berjalannya waktu busana koteka yang menjadi warisan budaya lokal pegunungan tengah Papua ini pun, makin hari, makin dianggap tabu.

Dengan demikian, ditakutkan akan punah atau lebih tepatnya tak akan digunakan lagi. Busana koteka kian hari dicemari atau dapat dikatakan dikolaborasikan dengan budaya lain. Hal ini memang baik, namun bila dibiarkan terus maka ditakutkan busana koteka yang kaya akan segi mistisnya ataupun kekhasannya akan hilang.

Di zaman dahulu busana koteka sangatlah alami, dibuat dengan ketelitian maupun dengan penekunan yang baik. Hal ini dilakukan karena busana koteka adalah satu-satunya busana yang menutupi alat vital para lelaki di pegunungan tengah Papua.

Busana koteka pun tidak satu macam cara pemakainnya, hampir setiap daerah punya kekhasan pemakaiannya sendiri. Tali yang menyangga koteka sering disebut tekei (dalam Bahasa daerah suku Mee). Tekei ini kebanyakan bahannya diambil dari serat kayu yang dipintal menjadi seutas tali yang kuat, dan diikat menjadi satu di daerah bagian bawah tali perut.

Ada beberapa orang-orang tertentu yang seringkali menggunakan tekei yang bahannya diambil dari anggrek, dan dalam proses pemintalannya sama dengan serat kayu. Orang-orang yang menggunakan tekei yang terbuat dari anggrek adalah orang-orang kaya. Pemaknaan orang kaya disini bukanlah karena dia mempunyai uang yang banyak, tetap karena dia mempunyai tanah yang luas, hewan piaraan yang banyak sehingga orang tersebut dianggap kaya.

Dalam Hal pemakaian busana koteka di Abad 21-an ini ada banyak sekali campuran budaya dari luar sehingga keaslihan busana koteka tidak lagi tampak. Yang paling di sayangkan adalah pengadopsian budaya dari luar sehingga kini generasi muda yang menganggap bahwa pakaian busana koteka yang campur aduk tersebut adalah pakaian busana yang asli warisan turun temurun. Hal ini sangatlah berbahaya bagi keaslian busana koteka yang merupakan busana warisan leluhur. 

Masa kini, tanggapan orang-orang muda tentang busana koteka, ya bisa dikatakan mengarah ke sisi negatif. Hal ini bisa dilihat dari reaksi kaum muda yang ketika diminta atau bila disuruh menggunakan koteka. Sebagian orang muda menyatakan bahwa mereka takut mengenakan busana koteka. Mereka anggap bahwa pemakaian busana koteka itu terlalu tabu, dan juga sangatlah memalukan. Hal ini karena pemakaian busana koteka hanya menutupi kemaluan, sedangkan tubuh pemakai koteka dibiarkan telanjang.

Namun bila direnungkan dengan baik maka harus disadari akan pentingnya busana koteka oleh kaum muda, agar dikemudian hari kaum muda mungkin tidak kehilangan indentitas budayanya.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017oleh : Rohmah Sugiarti
12-Okt-2017, 06:52 WIB


 
  Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017 Hong Kong Cyclothon kembali di tahun ketiga, tepatnya pada hari Minggu, 8 Oktober kemarin. Diikuti sekitar 5.000 pesepeda dari seluruh pelosok dunia. Tujuh belas tim balap profesional akan berlaga di UCI Asia Tour Class 1.1 Road Race pertama di Hong
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Danau Toba Bukan Danau Tuba 14 Okt 2017 05:14 WIB


 

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia