KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalBocoran Terbaru Kabinet Kerja Jokowi-JK, Perlu? oleh : Wahyu Ari Wicaksono
24-Okt-2014, 15:46 WIB


 
 
Bocoran Terbaru Kabinet Kerja Jokowi-JK, Perlu?
KabarIndonesia - Jakarta, Pengumuman nama-nama yang akan segera mengisi beberapa kursi kementerian adalah peristiwa yang paling ditunggu oleh masyarakat Indonesia saat ini. Apalagi kabar santer bahwa Jokowi akan segera mengumumkan nama-nama pembantunya tersebut secara unik di teriminal 3 Pelabuhan Tanjung
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Tak Datang 23 Okt 2014 17:37 WIB

Karyawan (Tak) Setia 16 Okt 2014 17:37 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

RESENSI BUKU: Menjadi Pribadi Sukses dengan Ilmu Gaul

 
BUDAYA

RESENSI BUKU: Menjadi Pribadi Sukses dengan Ilmu Gaul
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 09-Feb-2010, 05:54:08 WIB

Judul Buku         :    Belajar Gaul Jadi Manusia Unggul
Penulis                :    Lita Tamzil

Kata Pengantar :    Andreas Harefa
Layout             :    Ryan Pradana
Tebal               :    218 + xi halaman
Penerbit           :    PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN                :    978-979-22-5256-9  

Menjadi Pribadi Sukses Dengan Ilmu Gaul

“Ibu Lita, terima kasih banyak atas mata kuliah Human Relations-nya. Kalau saya punya anak kelak, saya akan ajarkan [materi kuliah] Human Relations itu kepada anak-anak saya.” 
           

KabarIndonesia - Kutipan di atas adalah sebuah SMS yang diterima oleh Lita Tamzil dari seorang mahasiswanya di LPKIA Bandung. SMS ini menunjukkan betapa pentingnya Ilmu Gaul (Human Relations) untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa tersebut merasa perlu untuk mengajarkannya pada anak-anaknya kelak.          

Pentingnya Ilmu Gaul (Human Relations) untuk mencapai sukses dalam kehidupan sehari-hari inilah yang diuraikan Lita Tamzil dalam bukunya, Belajar Gaul Jadi Manusia Unggul. Dalam buku setebal 218 halaman ini, Lita Tamzil menulis banyak cerita tentang pengalaman-pengalaman nyata yang telah dialami sendiri oleh para mahasiswanya di LPKIA Bandung. Terasa aneh memang, mengapa mata kuliah Human Relations diajarkan di sebuah lembaga pendidikan ilmu komputer. Lita Tamzil menyadari bahwa dunia kerja adalah dunia sosial, yang menuntut setiap orang berinteraksi dengan orang lain dalam satu organisasi perusahan yang sama, bahkan dengan orang-orang di luar perusahaan itu. Karena itulah, atas gagasan dari suaminya, Paulus Tamzil, yang berprofesi sebagai seorang psikolog, LPKIA menjadi satu-satunya institusi pendidikan pertama (setidaknya di Bandung) yang tidak hanya membekali para mahasiswanya dengan Hard Skill (ilmu komputer), tetapi juga Soft Skill (human relation) yang mempelajari hubungan antarmanusia. Dengan demikian, menurut Lita Tamzil, lulusan LPKIA akan lebih siap memasuki dunia kerja.  

Buku ini sangat unik dan berbeda dengan buku-buku lain yang hanya menawarkan teori atau konsep tentang cara bergaul dan berkomunikasi. Dalam buku ini, berbagai cerita pengalaman ditulis dan dikelompokkan dengan apik menjadi 5 bagian. Mulai dari cerita tentang pengalaman Masa Kecil yang tak terlupakan, Keberhasilan yang dipandang subyektif oleh pencerita, Perbaikan Komunikasi dan Hubungan dengan orang-orang di sekitar pencerita, cerita-cerita yang membawa Hikmah, hingga cerita-cerita yang menjadi sumber Inspirasi dan Menginspirasi. Cerita-cerita ini dikumpulkan dan disaring Lita Tamzil dari sesi Sharing pada mata kuliah Human Relations yang diajarkannya.  

Inilah yang membuat buku ini unik. Buku ini tidak hanya menyajikan kumpulan cerita inspiratif biasa seperti yang dapat kita temui dalam seri Chicken Soup for the Soul atau cerita-cerita dalam buku yang ditulis oleh Andre Wongso dan penulis-penulis lain yang hanya mengutip kisah-kisah buku Cina Purbakala dan pencerita fiktif. Buku ini menuliskan kisah nyata, cerita pengalaman masa lalu yang diceritakan kembali, dimaknai ulang, dan ditarik hikmah atau pelajarannya. Cerita masa kecil yang ditinjau kembali setelah dewasa, cerita tentang kesuksesan dari sudut pandang subyektif pencerita, dan cerita tentang perbaikan hubungan yang telah rusak. Temukan dalam buku ini cerita tentang kebencian seorang anak kecil pada ibunya sehingga ia membuang sekotak perhiasan sang ibu ke dalam kolam, cerita tentang seorang anak yang memusuhi ayahnya, seorang remaja yang merasa seperti orang asing dengan bibinya, atau pelajar SMA yang pura-pura gila dan rela masuk rumah sakit jiwa karena merasa rumahnya tidak lagi nyaman. Ada lagi cerita tentang mahasiswa yang pernah mengambil pelajaran dari seorang tukang sol sepatu, tukang sayur, nenek tua sebatangkara, atau seorang mahasiswa buta. Temukan pula bagaimana mereka berhasil mendapatkan pencerahan untuk masalah-masalah mereka. Bagaimana akhirnya si anak kecil memiliki tekad untuk mengembalikan perhiasan ibunya, dan seorang anak kembali mencintai ayahnya. Bagaimana seorang keponakan memperbaiki hubungan dengan bibinya setelah mendapatkan ilmu gaul, dan bagaimana pelajar yang pura-pura gila kembali pulang ke rumahnya. Ini bukan kisah fiktif. Kisah seperti ini dialami sendiri oleh mahasiswa dan dituliskan nama penceritanya dalam buku ini, kecuali beberapa cerita yang karena kealpaan dokumentasi, tidak dapat ditemukan pemiliknya.          

Dengan cerita-cerita pengalaman ini, seolah Lita Tamzil hendak mengatakan pada pembaca bahwa rasa penyesalan, marah, emosi, benci, egois, menganggap orang lain kurang penting, minder, dan putus asa adalah perasaan yang tidak semestinya dan dapat dikelola dengan baik dengan Ilmu Gaul (Human Relations). Dengan mengesampingkan perasaan-perasaan seperti itu, kita tidak hanya akan meraih sukses dalam bentuk materi, dalam bentuk keberhasilan mencapai cita-cita, menjadi juara sebuah lomba, atau mencapai kedudukan yang tinggi di kantor. Kita dapat mencapai kesuksesan yang lebih besar dan lebih mulia dari itu, kesuksesan mengalahkan diri sendiri. Dengan mengesampingkan ego, kita sukses membina hubungan baik dengan orang tua, saudara, guru, dan sahabat-sahabat kita. Dengan mengelola rasa minder dan putus asa, kita dapat berdamai dengan kejadian-kejadian buruk yang tidak pernah kita inginkan terjadi dalam hidup kita. Akhirnya, dengan tidak menganggap orang lain kurang penting, kita dapat mengambil pelajaran dari orang-orang yang kurang beruntung di sekitar kita, dari tukang sol sepatu, tukang sayur, nenek tua sebatang kara, bahkan dari seorang penyandang cacat.          

Gaya penceritaan yang sederhana, mengalir apa adanya, tanpa dramatisir dan hiperbola, dan tanpa bahasa yang berbunga-bunga membuktikan bahwa cerita-cerita pengalaman dalam buku ini original. Cerita-cerita itu disampaikan sendiri oleh para penceritanya, bukan cerita yang ditulis oleh seorang penulis fiksi, cerpenis atau novelis.               

Singkatnya buku ini tidak hanya unik dan menarik, tetapi inspiratif dan motivatif. Penulis sama sekali tidak menemukan hal-hal lain yang perlu dikritik selain kurangnya ilustrasi atau foto untuk mempercantik penampilan dan isi buku ini.          

Bukan hanya para mahasiswa dan jajaran pendidik Human Relations di LPKIA Bandung saja yang akan mendapatkan pencerahan, pelajaran, hikmah, motivasi, dan inspirasi dari buku ini, kita sebagai pembaca juga akan mendapatkan banyak pelajaran berharga. Selamat Membaca! (*)

Ditulis oleh Heni Kurniawati (Editor HOKI)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mungkinkah Suami Mengasuh Anak?oleh : Jumari Haryadi
17-Okt-2014, 23:18 WIB


 
  Mungkinkah Suami Mengasuh Anak? Tugas istri adalah mengasuh anak, namun peluang kerja untuk pria terbatas, terkadang posisinya terbalik. Justru istri bekerja menjadi TKI di luar negeri, sementara suami mengasuh anak di rumah. Pasangan suami istri sebaiknya berbagi peran mengasuh anaknya. Misalnya ketika
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Sastra Tanpa Riset 05 Okt 2014 10:09 WIB

 
Korban Lapindo Tagih Janji Jokowi 23 Okt 2014 20:21 WIB

 
Idul Adha di Leipzig 08 Okt 2014 13:16 WIB


 
Papua Kalahkan Sumut 24 Okt 2014 11:23 WIB


 

 

 

 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB

 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia