KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
HukumRUU Omnibus Law Inskonstitusional Buruh Minta Stop Pembahasan Sidang Paripurna DPR RI oleh :
05-Okt-2020, 04:26 WIB


 
 
KabarIndonesia - Berbagai serikat pekerja yang merupakan afiliasi global unions federations menyatakan kekecewaannya terhadap hasil pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja tingkat pertama pada Sabtu malam (3/10). Mayoritas fraksi di DPR RI dan pemerintah sepakat untuk melanjutkan pembahasan ke tingkat
selengkapnya....


 


 
BERITA BUDAYA LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
BUDAYA

Proses Kreatif Menulis Fiksi
Oleh : Arba'iyah Satriani | 27-Okt-2008, 12:53:13 WIB

KabarIndonesia - Menulis fiksi bagi sebagian orang menjadi sebuah persoalan besar. Tak hanya persoalan cara menuliskannya, tetapi juga bagaimana mendapatkan ide untuk menulis cerita. Menurut Camilla Gibb, penulis novel Lilly yang diterbitkan Qanita (Grup Mizan), mengungkapkan hal penting sebelum menulis adalah membaca. Dengan banyak membaca, kata perempuan kelahiran London, Inggris  yang besar di Kanada ini, kita akan memperoleh banyak masukan sekaligus ide.

"Sementara ide itu sendiri, bisa datang dari mana saja... bahkan kadang-kadang ide itu ada persis di hadapan kita," ujar Camilla saat diskusi buku dan proses kreatif menulis di Ruang Serba Guna Masjid Salman ITB, Bandung pada Jumat (24/10) sore. Diskusi itu diselenggarakan sebagai bagian dari promosi novel Lilly di Indonesia. Hadir sebagai pembicara lain dalam acara itu adalah Irfan Hidayatullah (ketua Umum Forum Lingkar Pena) dan Femmy Syahrani (penerjemah novel Lilly). Diskusi dipandu oleh Atta Verin.

Novel yang ditulis Lilly sangat kental dengan informasi mengenai Islam dan pesan damai yang dibawa agama ini. Kisahnya sendiri mengenai seorang gadis bernama Lilly yang menemukan keislamannya setelah melalui proses yang panjang yang diwarnai pula dengan kisah cinta antara sang tokoh dengan lelaki idamannya. Yang lebih menarik, Camilla bukanlah seorang muslim tapi ia mampu menuangkan banyak hal berkenaan dengan Islam secara objektif.

Dikatakan Camilla, untuk menulis novel yang versi aslinya - dalam bahasa Inggris - diselesaikan pada 2005 silam, ia memerlukan sebuah riset yang mendalam. Dirinya memang bergelar PhD di bidang antropologi, sehingga mengaku memperoleh data dan informasi yang detail mengenai Ethiopia - setting lokasi untuk novel ‘Lilly'- tetapi dalam menulis novel tersebut, "Saya harus menanggalkan semua informasi akademis tersebut dan memulai menulis sesuatu yang sama sekali baru."

Camilla pun mengaku kadang-kadang mengalami kesulitan dalam menuangkan ide atau bahkan kesulitan untuk mendapatkan ide itu sendiri. "Tapi hal itu merupakan suatu yang wajar. Jika belum mendapat ide, perbanyaklah membaca,'' kata dia menegaskan.
Proses pembuatan novel Lilly ini sendiri pun diakui Camilla tak mudah. Saat pertama, ia menulis sebanyak 400 halaman mengenai tokoh Lilly semasa kecil, mulai dari lahir di mana, siapa orang tuanya serta bagaimana masa kecilnya. Kemudian, ia "membuang" 400 halaman itu untuk selanjutnya menuliskan kisah baru lagi, mengenai Lilly yang sudah dewasa. "This is not a happy thing but it is necessary thing,'' kata dia mengomentari proses membuang naskah sebanyak 400 halaman itu.

Menjawab pertanyaan salah seorang peserta mengenai teori untuk "show, don't tell", dengan antusias Camilla menyatakan persetujuannya. Menurut dia, salah satu kelebihan fiksi adalah bisa mengungkapkan sesuatu tanpa harus mengajari pembacanya. Caranya? "Dengan menceritakannya, bukan dengan mengatakannya secara langsung," ungkap dia. Selain itu, ia menambahkan, saat menulis sesuatu janganlah menghakimi tetapi sampaikan dengan cerita. Misalnya, jika kita ingin menyampaikan kritik terhadap sesuatu, kita bisa menyampaikan stereotype yang ada atau kita ingin menjelaskan mengenai berbedanya seseorang dari orang lain, kita bisa menuturkannya dengan cara yang berbeda ketimbang mengungkapkannya secara langsung.

Pernyataan Camilla diamini oleh Irfan. Menurut  dia, dalam sebuah karya sastra kita bisa berargumen dengan cerita. Bahkan ia menunjukkan secara langsung contoh tersebut dalam novel Lilly. "Di sini (novel, Red) diungkapkan kritik mengenai kemiskinan yang masih terjadi padahal Islam adalah agama yang memerangi kemiskinan, diungkapkan tradisi yang tidak Islami serta hubungan antara suami istri, ada kritik penulisnya, tetapi tidak disampaikan secara langsung, ‘' ujar dia.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembalioleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
10-Jun-2020, 09:39 WIB


 
  Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembali Obyek wisata rohani Salib Kasih di pegunungan Siatas Barita, Tapanuli Utara dibuka kembali sejak Jumat (5/6), setelah dua bulan lebih ditutup akibat wabah Covid-19. Lokasi wisata ini salah satu destinasi unggulan yang dibangun bupati Lundu Panjaitan tahun 1993. Puluhan ribu
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
MENJAGA INTEGRITAS INTELEKTUAL. 19 Okt 2020 01:59 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia