KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalKapolri Terbitkan Maklumat Cegah Klaster Baru Covid-19 Terutama di Pilkada 2020 oleh : Danny Melani Butarbutar
21-Sep-2020, 15:35 WIB


 
  KabarIndonesia - Jakarta, Kapolri Jenderal Idham Azis menerbitkan Maklumat untuk mencegah terjadinya klaster baru penyebaran Covid-19 di masa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2020. Maklumat Kapolri bernomor Mak/3/IX/2020 tentang Kepatuhan Terhadap Protokol Kesehatan Dalam Pelaksanaan Pemilihan Tahun 2020.

"Jadi
selengkapnya....


 


 
BERITA EKONOMI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Pengurangan Risiko Bencana Pasca Gempa Bumi 2018 Sulawesi Tengah

 
EKONOMI

Pengurangan Risiko Bencana Pasca Gempa Bumi 2018 Sulawesi Tengah
Oleh : Djuneidi Saripurnawan | 05-Sep-2020, 06:23:39 WIB

KabarIndonesia - Dalam rangka peringatan 2 tahun pasca bencana Gempa bumi, Tsunami dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah, Indonesia, September 2018-2020, berbagai program telah dilakukan oleh berbagai pihak terutama pengurangan resiko bencana.
Bencana Gempa Bumi, Tsunami, dan Likuifaksi.

Gempabumi 7,4 SR yang terjadi di Donggala, Povinsi Sulawesi Tengah pada Jumát sore pukul 18.02 WITA, tanggal 28 September 2018 (twitter BMKG) telah menimbulkan fenomena tsunami dan likuifaksi yang berdampak pada sekitar 4.340 lebih korban jiwa. Lebih dari 2500 orang terluka parah, 88.000 pengungsi, 65.000 rumah hancur dan rusak, 330.000 orang tanpa tempat berlindung yang memadai, kerusakan infrastruktur sampai lumpuhnya aktivitas ekonomi lokal.

Total kerugian diperkirakan Rp 18,48 triliun lebih (BNPB,27/10/2018). Pusat gempa bumi itu terletak 26 Km di utara Kota Donggala dan 80 Km dari Kota Palu. Lokasi yang terdampak utama adalah Palu, Sigi dan Donggala, tiga wilayah setingkat kabupaten-kota itu kemudian dikenal sebagai ‘Pasigala’ dalam program tanggap bencana dan pemulihan pasca bencana.

Pengurangan Risiko Bencana
Pasca bencana itu, berbagai upaya untuk memperbaiki kembali situasi dan kondisi dilakukan oleh semua pihak, bahkan pihak dari luar daerah dan luar negara juga terlibat. Bantuan dari berbagai negara sahabat, dan dari organisasi kemanusiaan internasional yang sering disebut sebagai International Non-Government Organization (INGO) memberikan banyak bantuan dengan beragam programnya.

Namun di Sulawesi Tengah ini, INGOs tidak diperkenankan langsung beraksi ditengah masyarakat, tetapi harus melibatkan organisasi nasional atau lokal, bahkan orang asing sangat dibatasi untuk bisa terlibat; tidak seperti pasca bencana Tsunami di Aceh 2004 atau pasca bencana gempa bumi di Yogyakarta 2006 dan Sumatera Barat 2009, atau seperti bencana gempa bumi dan tsunami di Mentawai 2010 dimana ratusan INGO bisa terlibat langsung membantu masyarakat dan Pemerintah Indonesia dalam pemulihan situasi dan keadaan untuk menjadi lebih baik lagi daripada sebelumnya.

Catholic Relief Services (CRS) adalah salah satu INGO yang terlibat sejak awal bencana terjadi di Sulawesi Tengah pada akhir tahun 2018. Selain memberikan bantuan untuk pemenuhan kebutuhan pokok, hunian sementara (transitional shelter), kebutuhan air bersih, CRS juga mempunyai program Pengurangan Risiko Bencana (Disaster Risk Reduction=DRR) yang di dalamnya mengandung kegiatan penguatan ekonomi dan penghidupan-matapencaharian bagi masyarakat terdampak. Bisa disebut sebagai DRR-Livelihood Program yang secara khusus dan khas dibangun oleh CRS ini yang pendekatan dan model konsepsinya disebut Community Led Disaster Risk Management (CLDRM) yang menempatkan komunitas (warga lokal) sebagai aktor utama dalam membangun kapasitas dan ketangguhan menghadapi acaman bencana sewaktu-waktu.

CRS juga telah mengembangkan sistem keuangan mikro yang disebut Savings and Internal Lending Communities (SILC) yang sangat berpihak bagi semua komunitas karena sudah teruji berjalan di komunitas termiskin di benua Afrika. Karena manfaat SILC bisa berkontribusi besar bagi masyarakat terdampak bencana, maka program DRR-Livelihood yang menggunakan pendekatan SILC dinilai bisa sangat efektif bagi peningkatan kapasitas masyarakat terdampak bencana untuk bisa membangun keadaan kehidupan lebih baik.

Simpan Pinjam Internal Komunitas
Simpan Pinjam Internal Komunitas adalah sistem keuangan mikro yang dbangun oleh CRS untuk memajukan ekonomi masyarakat miskin yang memiliki banyak kekurangan dan kelemahan untuk bisa mengakases sistem keuangan formal seperti per-bank-kan. SILC pertama kali dikembangkan di Benua Afrika. CRS sebagai lembaga filantropi kemanusiaan yang berpusat di Baltimore, Maryland, Amerika Serikat sudah sejak 2001 mengembangkan SILC dari perkumpulan-perkumpulan keuangan tradisional di beberapa negara di Afrika, seperti Kenya, Tanzania, dan Uganda. Kemudian sejak 2006 mulai meluas ke hampir semua negara di dataran Afrika, kemudian juga diperkenalkan di Kawasan Amerika Latin, dan beberapa negara di Benua Asia, seperti Kamboja, Timor Leste, dan Filipina (Guy Vanmeenen, 2006).

Tahun 2018, CRS-Indonesia memulai piloting SILC dengan projek TaMPIK di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur; dan pasca bencana Gempa Bumi, Tsunami, dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah pada tahun 2018, CRS-Indonesia melaksanakan program Pengurangan Risiko Bencana untuk penguatan kapasitas sumber daya lokal dan pengurangan kerentanan dan ancaman bencana di 6 desa di kecamatan Kulawi, Gumbasa di Kabupaten Sigi dan Banawa di Kabupaten Donggala.

SILC sangat berbeda dengan sistem koperasi simpan pinjam (KSP) pada umumnya, SILC tidak dilembagakan secara formal, keanggotaan terbatas 15-30 orang, uang disimpan sendiri dengan kotak simpanan (disebut “Kotak SILC”), peraturan fleksibel menurut kesepakatan bersama, fleksibilitas juga ada pada perhitungan “bunga”(interest) ataupun tidak ada bunga, dan waktu masa pinjaman juga sangat fleksibel tetapi dengan batas waktu yang telah disepakati bersama.

SILC dirancang untuk diakhiri pada suatu waktu yang dikenal sebagai “tutup siklus”yang satu periode siklusnya selama 10-12 bulan. Tutup Siklus itu dimaksudkan untuk mempermudah manajemen keuangan—catatan pembukuan yang lama ditinggalkan dan mulai dengan yang baru lagi--- dan ada proses pembentukan kelompok SILC yang baru dengan keanggotaan bisa bertambah atau berkurang dan peraturan (konstitusi) yang baru disepakati bersama. Dengan Tutup Siklus, maka setiap anggota akan “panen”tabungan masing-masing untuk dimanfaatkan sesuai tujuan pada awal SILC dibentuk. Dengan model sistem SILC ini maka keberlanjutannya sangat tinggi karena tergantung pada internal komunitas & bukan pada pihak luar, apalagi melibatkan banyak kaum perempuan sebagai upaya pemberdayaan ekonomi rumah tangga.

Penguatan ekonomi bagi komunitas kecil (miskin)
Sejak awal SILC dirancang untuk bisa membantu keluarga dan komunitas yang sangat miskin, baik dari ukuran ekonomi sehari-hari, maupun dari akses pelayanan keuangan yang bagi mereka sangat sulit untuk bisa digapai, karena lembaga keuangan formal—Bank dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP)-- memiliki persyaratan formal yang memberatkan mereka, seperti adanya ‘bunga’ (interest) yang cukup besar bagi mereka, adanya agunan (jaminan) untuk peminjaman uang, dan adanya jumlah saldo minimum di rekening bank; belum lagi urusan pendaftaran menjadi anggotanya saja membutuhkan berbagai syarat, minimal Kartu Tanda Penduduk (KTP) terbaru, Kartu Keluarga (KK), jumlah tabungan awa yang cukup besar bagi mereka yang dari keluarga ekonomi lemah (miskin). SILC didesain bagi komunitas termiskin dari yang miskin (poorest of the poor). Dengan demikian, bila SILC bisa dimanfaatkan oleh komunitas termiskin maka komunitas yang lebih baik ekonominya tentu dengan mudah bisa memanfaatkan dan mengakses SILC.

SILC memberikan otoritas penuh bagi anggota kelompoknya untuk mengelola dana simpanan yang terkumpul untuk membantu peningkatan pendapatan (income) keluarga, dan juga membantu kesediaan dana tunai yang bisa mereka pinjam tanpa peryaratan yang memberatkan mereka, karena persyaratannya sudah ditentukan sendiri oleh mereka. Anggota SILC pun sekarang merasa lebih tenang bila sewaktu-waktu membutuhkan dana tunai.

SILC bagi komunitas di Sulawesi Tengah menjadi tempat menabung yang aman sekaligus penyedia layanan pinjaman bila sewaktu-waktu membutuhkan uang. Kebutuhan sehari-hari dari keluarga ekonomi kecil terkadang naik-turun, dengan pendapatan harian yang tidak menentu, hasil panen kebun dan sawah yang juga belum pasti hasilnya.

“Dengan adanya kelompok SILC ini, kami tidak lagi terjerat dengan rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga tinggi sekali,…Kalau pinjam Rp 1 juta, kembalinya Rp 1,3 juta dalam waktu satu bulan. Kami seperti jadi sapi perahnya rentenir…Dan kalau menabung di bank itu banyak syarat ini itu, harus ada tabungan minimal, kena potongan administrasi, sedangkan tabungan kami kan jumlahnya kecil, puluhan ribu saja; kalau pinjam di bank ya tidak mungkin dengan jumlah yang puluhan ribu saja, kalau pinjamannya besar juga perlu agunan,” kata Dian Aryani (38), Kader SILC di Desa Bolapapu, Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Ditambahkannya, "kami para Kader SILC membuat kelompok SILC Pelita Abadi, supaya harapan kami, kelompok SILC kami tetap berjalan abadi."

Beberapa kelompok SILC menjadi pengelola persedian beras (sebagai bahan pangan pokok) untuk cadangan bencana di desanya. Forum Pengurangan Risko Bencana (PRB) di desa merencanakan adanya persediaan bahan pokok pangan bila terjadi bencana—seperti banjir yang sering terjadi di Desa Salua dan Tuva—maka harus ada persediaan beras dalam waktu 3 hari bagi sekian ratus orang yang terdampak bencana. Semua itu diperhitungkan sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan bencana masyarakat desa. Secara khusus rencana kontijensi memang selalu dibicarakan dan diperbaiki bersama melalui Forum PRB supaya semua warga yang berada di wilayah ancaman bencana (zona merah) terlindungi dari ancaman bencana dan selalu siap-siaga berkehidupan di zona merah.

Penguatan ikatan sosial dan moral
Keberadaan SILC di tengah masyarakat pasca bencana di Sulawesi Tengah ini, ternyata dirasakan manfaatnya oleh warga masyarakat secara nyata. Selain memberikan suatu layanan keuangan berupa system simpan (tabungan)-pinjam internal, SILC juga memberikan penguatan ikatan sosial dan moral bagi warga yang terlibat di dalamnya.< br />Penguatan komunitas SILC--diakui mereka sendiri-- karena secara langsung mereka sendiri yang aktif menentukan peraturan (konstitusi) dalam sistem simpan-pinjam, menetapkan sanksi disiplin kehadiran, dan yang penting juga adalah adanya ikatan moral bersama karena melalui simpan-pinjam ini mereka menyadari saling bergantung dan saling membantu. Oleh karena itu, simpanan bersama yang dipinjam oleh anggota SILC selalu membawa pesan moral bahwa ini adalah dukungan dari semua anggota SILC dan harus dikembalikan seutuhnya sesuai peraturan yang telah ditetapkan bersama.

Di Desa Salua, Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) mengikuti langkah Kelompok SILC “Maju Sejahtera” yang sudah berjalan 9 bulan karena tingkat partisipasi anggota SILC dalam setiap pertemuan itu hampir 100%. Sementara itu, setiap ada pertemuan Forum PRB –jadwalnya tentative—anggota forum yang hadir hanya sebagian saja. Supaya ada disiplin kehadiran dari semua anggota Forum PRB di tingkat desa, yang jumlahnya 30 orang lebih, maka dalam suatu pertemuan Forum PRB yang dihadiri Kader SILC Salua pada akhir bulan Juli 2020, pengurus Forum PRB sepakat untuk mengadakan sistem SILC dalam kelompok Forum PRB-nya sehingga diharapkan hampir semua anggotanya bisa saling bertemu secara rutin dalam setiap minggu untuk menabung (simpanan) dan pertemuan itu bisa dilanjutkan untuk koordinasi atau pembahasan tentang pengurangan risiko bencana.

Pemberdayaan Perempuan
Kelompok SILC banyak dibentuk oleh para ibu-ibu, karena umumnya mereka berada di rumah daripada bapak-bapak yang sering bekerja di luar rumah, atau pun di luar daerahnya. Semua Kader SILC menyatakan bahwa mengikuti kegiatan program SILC dari CRS & Yayasan Pusaka Indonesia (YPI) banyak manfaatnya bagi diri sendiri dan bagi sebagian besar anggota komunitas dengan terbentuknya kelompok-kelompok SILC di masyarakat di desa masing-masing.

“Kami mendapatkan pengetahuan baru tentang keuangan, pembukuan sederhana, membuat peraturan dalam kelompok SILC,… kami bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain, dan berlatih disiplin melalui kegiatan kelompok yang diarahkan untuk mendapatkan tambahan penghasilan rumah tangga,” kata ibu Lilis Suryani (37) Kader SILC di Desa Salua, Kulawi, Kabupaten Sigi.

“Dengan adanya kelompok SILC, kami sebagai ibu-ibu yang biasanya hanya mengurusi dapur, sumur, dan kasur…sekarang sudah bisa jadi kasir untuk usaha-usaha kami sendiri, sudah mulai diajak rapat oleh bapak-bapak. Biasanya kan kaum ibu hanya menyediakan kopi sudah itu harus ke belakang lagi, tidak diajak ngomong, tidak diajak rapat….Selesai rapat, para ibu kembali membersihkan sisa-sisa makanan dan gelas kotor,” jelas para ibu-ibu Kader SILC di Desa Bolapapu.

Sejak ada kelompok SILC di desa, para Kader SILC mulai dilibatkan dalam setiap pertemuan dan kegiatan dari Pemerintahan Desa maupun dari Lembaga Swadaya Masyarakat, organisasi masyarakat sipil, dan dari Non-Government Organization (NGOs) yang sedang mejalankan program kemanusiaannya di desa itu. 
Bahwa partisipasi semua pihak sangat diperlukan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat/komunitas dan mengurangi risiko dari ancaman bencana dimana pun, keberadaan kelompok SILC dan para ibu-ibu yang aktif terlibat dalam program dan kegiatan Pengurangan Risiko Bencana merupakan elemen masyarakat yang sangat penting untuk memperkuat ketangguhan keluarga dan komunitas dalam menghadapi ancaman bencana di sekitarnya.(*) 

Penulis: Djuneidi Saripurnawan, Humanitarian Worker, lulusan Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembalioleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
10-Jun-2020, 09:39 WIB


 
  Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembali Obyek wisata rohani Salib Kasih di pegunungan Siatas Barita, Tapanuli Utara dibuka kembali sejak Jumat (5/6), setelah dua bulan lebih ditutup akibat wabah Covid-19. Lokasi wisata ini salah satu destinasi unggulan yang dibangun bupati Lundu Panjaitan tahun 1993. Puluhan ribu
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia