KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalForum Promoter 2018 POLRI: Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045 (1) oleh : Rohmah S
23-Mei-2018, 12:15 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Pangan tidak hanya merupakan komoditas dan kebutuhan pokok dalam kehidupan setiap orang. Tetapi pangan juga menjadi kepentingan nasional dan keamanan nasional bagi sebuah negara.

Pangan memiliki peran dan fungsi vital bagi bangsa dan Negara Indonesia.
selengkapnya....


 


 
BERITA EKONOMI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Laju 10 Kilometer 22 Mei 2018 14:44 WIB

Ranting Putih 22 Mei 2018 14:41 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
EKONOMI

Membongkar Relasi Eksploitatif Bank dan Nasabah
Oleh : Setyo Sudirman | 23-Aug-2017, 09:55:28 WIB

KabarIndonesia - Bunga tabungan nasabah tetap rendah, sementara saat harus meminjam uang ke bank yang notabene kita menjadi nasabahnya, bunga yang dikenakan melejit jauh di atas inflasi dan terkesan mencekik.

Narasi besar (grand narrative) seperti kapitalisme dan komunisme memang telah berlalu. Yang kini berseliweran di sekitar kita adalah kombinasi ekspansi modal finansial dan kemajuan teknologi yang melaju dengan daya gedor dominasi dan hegemoni. Harus diakui narasi besar ini tidak melaju dengan desain besar karena telah menjelma menjadi siluman dan drakula rakus yang masuk ke hampir semua bidang kehidupan personal dan sosial kita.

Tak ayal, muncullah bermacam-macam model siluman dan drakula rakus, lengkap mulai dari yang biadab hingga yang beradab. Wujud nyata dari hegemoni ekspansi modal finansial di Indonesia saat ini adalah perbankan. Uniknya, sadar tidak sadar, langsung tidak langsung, kita menjadi suporter pasif dan aktif ekspansi modal finansial dunia perbankan yang hadir dengan daya gedor eksploitatifnya. Alhasil, dunia perbankan makin kokoh.
Kantor-kantor cabang bank dibuka hingga di wilayah pinggiran dengan gedung yang megah. Beragam fasilitas bank makin mudah dijumpai di manapun. Laporan laba tahunan bank pun triliunan. Sayangnya, nasabah tetap saja dirugikan. Bunga tabungan nasabah tetap rendah, sementara saat harus meminjam uang ke bank yang notabene kita menjadi nasabahnya, bunga yang dikenakan melejit jauh di atas inflasi dan terkesan mencekik.

Fakta ini jelas memunculkan gagasan relasi ekploitatif nasabah-bank. Bank tentu nyaman dengan relasi model seperti ini. Oleh sebab itu, untuk merawat relasi ekploitatif ini bank bergerilya untuk meninabobokan nasabah. Bank melakukan gerilya senyap yang sejatinya melakukan kekerasan simbolis.

Gerilya senyap itu mewujud dalam bentuk iklan. Iklan-iklan perbankan menerkam dan mengepung kita dimana pun kita berada. Sebagai suatu gerakan yang simbolis, ia tak menyebabkan luka fisik. Kata-kata yang kuat mengurung nasabah dengan iming-iming yang menggiurkan. Bahasa iklan perbankan menentukan cara melihat, merasakan, berpikir dan bertindak.

Benoit Heilbrunn (2003) alam karyanya “La douce violence des marques” dans “Pascal Lardellier, Violence Mediatiques” Paris: L'Harmattan, memaparkan bahasa iklan menerobos semua celah kehidupan sehari-hari.

Iklan menguntit kita. Ia ada di dekat pintu masuk tol, dekat stasiun, pasar, tempat nongkrong, bahkan di hingga di toilet dan menempel di dinding tempat ibadah yang dianggap sebagai tempat suci.

Kemanapun kita pergi, iklan menyapa kita. Bahkan, begitu kita nangkring di toilet dan membuka smartphone, ia ada di sana. Ia yang hadir dalam keseharian menurut Dr. Haryatmoko “Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi” (Kanisius: 2007), menyatu dalam hidup sehari-hari.

Rayuan bank hadir di kehidupan sehari-hari tanpa keganjilan, keanehan, keterkejutan atau penolakan karena memang telah terjadi persekongkolan tak sadar antara produk dan nasabah. Banyak dari kita merasa sadar, tetapi sejatinya kenal “gendam”.

Iklan-iklan, promo dan layanan baru meninabobokkan nasabah. Cara-cara menggiurkan ini hanya strategi bank menahan nasabah. Perbankan menginginkan nasabah terus menabung dengan bunga kecil plus potongan ini-itu mulai biaya administrasi yang besarnya bervariasi mulai dari ribuan rupiah per bulan hingga Rp 20 ribu per bulan.

Ada lagi yang namanya biaya penalti dimana pemilik rekening dengan saldo kurang dari jumlah minimal yang ditetapkan bank biasanya dikenakan penalti. Menyusul biaya transfer dan tarik tunai antar bank. Besaran biaya ini bervariasi mulai dari Rp 6.500 per transaksi. Ada lagi, biaya penggantian kartu kredit yang hilang atau rusak dan biaya pembayaran tagihan via ATM. Ini semua potret konkret bagaimana relasi eksploitatif itu terjadi.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Rayakan Ramadhan, Shopee Ajak Pengguna Berbelanja dan Beramal di Bulan Suci Rezki Yanuar, Brand Manager Shopee Indonesia memaparkan kampanye Ramadhan Shopee dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun 2018.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Antara Peradaban Barat dan Timur 22 Mei 2018 13:51 WIB


 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 
Tempat Sampah Pintar 17 Mei 2018 22:48 WIB


 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia